Tampilkan postingan dengan label Linux. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Linux. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Juni 2016

Cara Mudah Konfigurasi Modem di Linux Mint

Sekedar sharing saja, di sini saya mau menjelaskan cara mudah untuk konfigurasi modem di Linux Mint tanpa perlu menginstall dan tanpa Mobile Partner. Modem yang saya gunakan saat ini yaitu Huawei dengan kartu Tri.
Sebelum berhasil dengan cara ini, saya sudah beberapa kali mencoba menginstal modem dengan terlebih dahulu menginstal software bawaan modem (Mobile Partner), yang sayangnya tidak bisa langsung saya instal seperti di OS Windows. Untuk hal itu, saya harus mendownload file Mobile Partnernya terlebih dahulu, baru kemudian menginstal sesuai petunjuk yang ada.
Singkat cerita, karena tidak begitu mengerti dengan petunjuk yang diberikan, perlu waktu cukup lama bagi saya sampai Mobile Partnernya terpasang dengan baik di laptop. Tetapi ketika hendak menghubungkan koneksi modem, ternyata modemnya tidak terdeteksi. Tiga kali saya mencoba (mengulangi proses dari awal dengan installer yang berbeda), tiga kali pula saya gagal.
Karena hal itu, saya sempat frustasi dan putus asa untuk tidak menggunakan modem tersebut.
Namun, saya mencoba menguatkan diri untuk mencobanya sekali lagi (dengan cara ngawur dan sekenanya). Hasilnya, justru saya berhasil melakukan konfigurasi modem dan dapat terhubung dengan baik ke internet. Alhamdulillah.

Berikut ini langkah yang saya lakukan:

1. Untuk lebih mudahnya, masuk ke desktop terlebih dahulu


 

2. Pilih ikon Network pada panel menu, dan pilih Network Settings

 


3. Kemudian muncul jendela baru Networking, pilih bagian Mobile Broadband 

 


4. Pilih Network, lalu add new connection (pastikan modem sudah terpasang)

 


5. Isikan data-data yang diperlukan, klik continue

 


6. Ketika sampai pada Choose Billing Plan, sesuaikan dengan mode internet yang akan dipakai

 

Di sini saya memakai provider tri, dengan APN 3gprs. Karena pada menu your plan pilihan tersebut belum ada, saya pilih my plan is not listed dan memasukkan kode 3gprs.
Lalu lanjutkan pengisian data sampai selesai.


7. Setelah selesai, modem pun dapat digunakan dengan memilih koneksi pada bagian Network di panel menu

 

 

Demikian, cara mudah konfigurasi modem di Linux Mint dari saya. 
Saya nggak tahu gimana jluntrung-nya kok cara tersebut dapat berfungsi dengan baik, karena saya ngasal dalam melakukannya. Tapi apapun itu, yang penting modem saya sudah dapat digunakan.
Bagaimana dengan modem anda? Berhasilkah dengan cara ini?

Senin, 29 Februari 2016

Cinnamon, Si Kayu Manis


Sudah cukup lama saya menggunakan sistem operasi Linux Mint 17.x dengan Desktop Environment (DE) Cinnamon, dan selama itu saya tidak punya ide apapun tentang apa itu Cinnamon.
Baru tadi secara tidak sengaja saya menemukan kata Cinnamon di daftar nama sayur-sayuran berbahasa inggris. Ternyata Cinnamon adalah kata dalam bahasa inggris yang artinya kayu manis. Saya baru tahu.
Tertarik dengan kata Cinnamon itu, saya lalu coba mengecek temannya, Gnome. Nah, ternyata lagi-lagi Gnome merupakan kata dalam bahasa inggris yang artinya (semacam) kurcaci. Lagi-lagi saya baru tahu.
Bagaimana dengan kawannya lagi, Mate? Kalau Mate sih sudah cukup jelas, artinya (semacam) pasangan.
Namun setelah mencari informasi, saya tahu kalau itu salah. Kata Mate bukan ditujukan untuk arti pasangan, tetapi untuk sebuah spesies tanaman asli dari Amerika Selatan, yang daunnya mengandung kafein, yang biasanya diseduh dan dijadikan minuman bernama Mate (dibaca Mate, seperti kate Pare).

Saya baru tahu.

Selasa, 16 Februari 2016

Menambahkan LaTex ke Dalam LibreOffice

Salah satu fitur penting dalam komputer yang dibutuhkan oleh orang yang bekerja dalam bidang sains dan sejenisnya adalah kemudahan dalam membuat persamaan-persamaan matematik dan simbol ilmiah. Jika kita memakai komputer Windows, maka fitur equation di Microsoft Word adalah solusinya. Namun bagaimana jika kita menggunakan Linux sebagai sistem operasi komputer kita? Dengan apa kita harus membuat persamaan-persamaan matematik?

***

Ketika kita selesai menginstal Linux (misalnya pada Ubuntu, Mint, dll), maka seluruh aplikasi office penting telah secara langsung terinstall di dalamnya, termasuk LibreOffice, sebagai aplikasi untuk menulis, mengolah data, presentasi dan lains sebagainya. Di dalam LibreOffice sendiri sudah terdapat fitur LibreOffice Math, yang memungkinkan penggunanya untuk menulis persamaan matematik dan simbol ilmiah. Namun, dalam sudut pandang saya pribadi, penggunaan fitur Math masih kurang efektif dan hasilnya pun tidak sebagus yang diharapkan.
Jika LibreOffice Math kurang bagus untuk membuat persamaan matematik, lalu harus memakai apa?
LaTex!
(Sedikit penjelasan tentang LaTex di sini dan tulisan jadul saya di sini

Sayangnya, fitur LaTex ini tidak terpasang secara default pada LibreOffice Writer, sehingga kita harus memasangnya sendiri. Tapi tenang saja, karena untuk memasangnya bukan perkara yang susah.
Berikut langkah-langkahnya:



2. Di situ nanti ada banyak pilihan, tapi saran saya pilih versi terbarunya saja (jika memang versi LibreOffice anda cocok). Dalam contoh ini saya memilih versi 0.42


3. Download


4. Lalu buka file tadi, sehingga muncul jendela baru


5. Klik ok
6. Klik close
7. Buka LibreOffice Writer anda. Jika sudah ada tombol baru (berupa huruf pi di menu tab sebelah kiri) itu tandanya LaTex telah terpasang di Libre anda.


8. Selamat bekerja (Untuk memasukkan kode LaTex, klik menu pi tersebut)

Adapun untuk detail cara penggunaan LaTex, silahkan cari sendiri di internet.

Rabu, 30 Desember 2015

Kitkat Lebih Baik


Ceritanya begini, beberapa waktu yang lalu saya meng-upgrade sistem hp saya ke Android Lollipop. Hal itu saya lakukan setelah melihat hp teman saya (yang berjenis sama) yang secara ajaib berpenampilan elegan, beda jauh dengan tampilan hp saya. Usut punya usut, ternyata dia sudah meng-upgrade hpnya ke Android Lollipop, kemduian memberi beberapa sentuhan tambahan sehingga tampilan-tampilan yang ada berbeda dengan hp saya.
Pada dasarnya saya memang bosan dengan tampilan hp saya, yang menurut saya biasa saja dan gak ada keren-kerennya (padahal pas awal-awal saya melihatnya keren). Kemudian saya mendapat stimulan berupa tampilan hp teman saya, yang begitu kerennya, saya bertekad untuk meng-upgrade hp saya.

***

Setelah saya upgrade, ternyata benar bahwa tampilan hp saya terasa lebih bagus dan lebih modern. Ada banyak pilihan tema yang bagus dan pemakaiannya mudah. Akhirnya hp saya jadi keren :)
Tapi...

***

Keren sih keren, tapi baterai saya cepat habis. Benar-benar cepat habis. Jam 10.00 kondisi baterai saya hampir full, jam 12.00 baterainya sudah 50%, jam 13.00 sudah sekarat dan sisanya saya menjalani kehidupan kampus dengan kondisi hp mati. 
Bagaimana ini? 
Akhirnya saya memilih downgrade hp saya ke Android Kitkat, yang ternyata lebih baik daripada Lollipop. Ternyata Lollipop boros baterai, sementara mayoritas fitur hp tidak berubah. Huh.
Sekarang saya sudah kembali bersama Kitkat. Pagi hari baterai hp full, sampai malam pun tetap kuat terjaga. Alhamdulillah...

*Hp saya Asus Zenfone 5

Jumat, 30 Oktober 2015

Berkarya dengan LaTex

Salah satu hal yang paling saya sesali ketika menggunakan Linux sebagai sistem operasi komputer saya adalah ketika saya menyadari bahwa di Linux tidak ada fitur semacam equation (di Microsoft Word) yang biasa saya gunakan untuk menulis persamaan matematik.
Di Linux memang ada WPS Office yang mempunyai tampilan persis seperti Microsoft Office, tapi ternyata ia belum dilengkapi dengan fitur equation tersebut. Di Linux juga ada Libre Office, yang punya fitur semacam equation, tapi font-nya kurang cantik dan cara penggunaannya rumit.
Writer Office



Libre Office

Saat saya sangat butuh untuk menulis persamaan matematik, tapi ternyata Linux belum mendukung dengan baik, saya frustasi. Ingin kembali ke Windows.
Sampai akhirnya saya menemui bahwa Libre Office dapat ditambahi dengan fitur LaTex, yang dapat digunakan untuk membuat persamaan matematik dengan cantik.




Pertama kali menggunakan LaTex, saya cukup kesulitan. Ada banyak hal baru yang membuat saya bingung, karena LaTex menggunakan sistem semacam kode bahasa pemrograman untuk membuat persamaan matematis. Jika di equation Microsoft Office saya hanya perlu menulis 1/2 untuk menulis bentuk pecahan satu per dua, di LaTex Libre Office saya harus menulis \frac{1}{2}. Rumit? Ya iyalah! 
Namun setelah sering menggunakannya, saya pun terbiasa, dan mulai menyukainya. Ada satu hal menarik dari LaTex yang membuat saya betah bersamanya. Apa? Fontnya cantik sekali! Punya nilai seni lebih daripada equation Microsoft Word.
Saya pun telah menulis (sedikit) karya dengan bantuan LaTex ini, seperti yang telah saya unggah di pos sebelum-sebelumnya:
Berkarya dengan LaTex juga memberi saya nilai lebih. Karena tidak (belum) banyak orang yang bisa menggunakan LaTex. Hihihi.

Kamis, 10 September 2015

Salah Kaprah Kita Tentang "Hack"


Pernah mendengar istilah hack? Tentu saja pernah. Apalagi buat kamu  pengguna Linux, yang di mata banyak orang sangat identik dengan seorang programmer keren yang hobinya nge-hack akun sosmed orang (padahal aslinya nggak bisa sama sekali).

Dalam pandangan umum, Hack adalah proses menerobos masuk ke dalam komputer dan jaringan komputer untuk kemudian melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Orang yang melakukannya disebut Hacker atau dalam Bahasa Indonesia disebut Peretas.
Tapi, apakah memang seperti itu?
Awalnya saya juga berpikir seperti itu. Tapi, setelah kemarin saya melihat keterangan dari kawan facebook saya (lebih tepatnya saya follow dia), mas Ainun Najib, yang merupakan inisiator situs kawalpemilu.org, Hackaton Merdeka, dan lain-lain, saya dapet pengertian baru mengenai kata hack.
Kata dia:
Istilah hack itu memang salah kaprah di kita. Telah mengalami majas peyorasi. Padahal esensi kata hack adalah mencapai hasil dengan cara tercepat, termudah, terefektif dan terefisien.
Peyorasi berarti perubahan makna menjadi buruk.  Nah, kata hack adalah salah satu yang telah mengalaminya. Yang semula berarti proses mencapai hasil dengan cara tercepat, termudah, terefektif dan terefisien berubah menjadi proses menerobos masuk ke dalam komputer dan jaringan komputer untuk kemudian melakukan hal-hal yang merugikan orang lain.
Dengan mengetahui esensi sebenarnya dari kata hack ini, saya telah dapat memahami banyak hal dengan lebih baik. Dalam konteks engineering, saya sering sekali bertemu dengan kata Lifehack, seperti di sini, saya membaca dan menikmati tulisan itu, tapi tidak sekalipun mengerti arti  kata lifehack itu sendiri. Baru setelah tahu arti sebenarnya dari kata hack, saya tahu arti kata tersebut.


Rabu, 09 September 2015

Boot Linux Mint dengan Logo Diponegoro Muda

Lagi iseng-iseng buat modifikasi Linux Mint saya. Salah satu yang saya lakukan kali ini adalah mengganti logo ketika leptop saya mulai boot.
Normalnya, ketika leptop dengan OS Linux Mint dihidupkan (boot), maka akan muncul logo Linux Mint, seperti ini:

Nah, saya pengen mengganti logo tersebut dengan gambar baru.
Gambar apa?
Saya kepikiran untuk menggantinya dengan gambar logo ODM (Orientasi Diponegoro Muda) 2015 yang telah sedikit saya modifikasi. Dan akhirnya boot pada leptop saya menjadi seperti ini:


Kalo kamu pengen menggantinya juga, ini tutorialnya buat kamu:
1. Pertama, pastikan kalo sistem operasi leptop kamu adalah Linux (dalam hal ini Linux Mint)
2. Download gambar ini:
3. Simpan dengan nama logo.png
4. Kalau sudah, login sebagai root. Buka terminal, ketikkan
sudo nautilus 
(lalu masukkan password kamu)
5. Masuk ke direktori Computer
6. Lalu ke direktori lib/plymouth/themes/mint-logo
7. Nah, di situ kamu akan menemukan gambar logo Linux Mint bernama logo.png. Hapus file tersebut, dan gantikan dengan Gambar Diponegoro Muda kamu yang bernama logo.png
8. Kalau sudah, buka terminal dan ketikkan:
sudo update-initramfs -u
(masukkan password kamu)
9. Tunggu sampai selesai
10. Sudah

Kalau sudah, rasakan sensasinya ketika leptop kamu boot dengan logo Diponegoro Muda..

Senin, 07 September 2015

Repository Undip di Linux Mint

Salah satu hal yang pertama kali membuat saya agak bangga kuliah di Undip adalah saat pertama kali saya melihat nama Repositori Undip ada di link download resmi Linux Mint.


Eh, tunggu sebentar... Repositori itu makhluk apaan?
Untuk arti resmi dari repositori sebenernya saya nggak tahu, apalagi jika itu berhubungan dengan Institutional Repository, dan lain-lain. Tapi yang saya tahu, dalam konteks dunia Linux, repositori itu semacam server yang berisi semua aplikasi Linux yang siap install. Jadi, paket-paket software linux itu dirawat dan disimpan dalam wadah yang bernama repositori. Untuk lebih jelasnya bisa kamu baca di sini

Balik lagi ke pembahasan awal.
Gila! Linux Mint itu salah satu distro Linux termasyhur di dunia lho (nomer 2 setelah Ubuntu).. Nah, mirror downloadnya di Indonesia kok malah milih Undip? Apa nggak salah tuh? Padahal kan repository universitas-universitas lain di Indonesia juga banyak; ada UI, ITB, UGM, dll. Nah ini kok malah Undip...

Dari sini saya berpikir, nggak mungkin mirror download itu dipilih asal-asalan. Dan kemungkinan logisnya adalah bahwa dunia Linux dan FOSS (Free Open Source Software) di Undip pasti maju. Nah!
Sebagai pengguna Linux, saya pikir ini adalah kesempatan yang sangat bagus buat saya untuk mengembangkan kemampuan ber-Linux saya, saya bisa kumpul-kumpul dengan komunitas Linux untuk diskusi dan lain-lain. Pasti asik.

***

Nama dari repository Undip juga membuat saya semakin tertarik dengannya. Namanya: Jaran Undip! Namanya liar banget... bandingin aja dengan nama-nama repository dari universitas lain, yang namanya standar banget: Repo UGM, Repo UNNES, Repo ITB, dll. Nah, Repository Undip namanya Jaran Undip. Gila!


Sabtu, 05 September 2015

Keyboard Mati Setelah Laptop Sleep

Beberapa waktu lalu, saya mengalami hal yang aneh berhubungan dengan laptop saya. Yaitu, jika saya menutup layar leptop (dibuat sleep), kemudian saya membangunkannya, keyboardnya menjadi tidak berfungsi. 
Laptop saya restart dan keyboard dapat berfungsi lagi. 
Saya coba lagi, leptopnya saya sleep, dan ketika bangun keyboardnya tidak berfungsi lagi. Begitu seterusnya.
Jadi, di sini ada sebuah permasalahan bahwa keyboard saya akan mati (istilah kerennya freeze) setelah leptop bangun dari keadaan sleep.

Saya pikir kasus ini pasti berhubungan dengan OS yang saya pakai (Linux Mint Rafaela), karena selama saya masih menggunakan OS Windows kejadian seperti itu tidak pernah terjadi.

***

Karena saya pikir bahwa mode sleep sangatlah bermanfaat, dan saya tidak ingin kehilangan fungsi keyboard setelah leptop sleep, saya berusaha untuk menyelesaikan masalah ini.
Setelah berdiskusi di forum-forum, saya dapatkan penyelesaian masalah tersebut sebagai berikut:
  1. Buka File System Linux
  2. Buka Folder etc
  3. Buka Folder default
  4. Cari file text bernama grub, klik kanan, open as administrator
  5. Pada teks grub, cari teks: GRUB_CMDLINE_LINUX_DEFAULT="quiet splash"
  6. Kemudian ganti dengan: GRUB_CMDLINE_LINUX_DEFAULT="quiet splash atkbd.reset" 
  7. Simpan, kemudian tutup
  8. Buka terminal, lalu lakukan update grub dengan perintah: update-grub
  9. Tunggu sampai selesai
  10. Reboot
  11. Selesai
Alhamdulillah, cara tersebut bekerja baik untuk leptop saya. Dan saya tidak perlu khawatir keyboard laptop saya mati setelah saya membangunakannya dari keadaan sleep.