Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Juli 2016

Curhatan Pengguna Toilet Umum

toilet via viva.co.id
Adalah sebuah kewajaran atau bahkan keharusan, jika seorang manusia perlu menuntaskan kebutuhan sistem ekskresinya. Juga merupakan kewajaran, jika seorang manusia memanfaatkan apa yang ia miliki untuk mendapat suatu keuntungan.
Kombinasi dari dua kewajaran itu menghasilkan sebuah ide produk jasa yang cukup menggiurkan keuntungannya, produk jasa yang umumnya menjamur di tempat-tempat umum dan pariwisata. Ia adalah bisnis toilet umum.
Tidak ada yang salah memang, jika seseorang memanfaatkan kebutuhan manusia akan sistem eksresi untuk meraup keuntungan. Namun masalahnya, bisnis toilet umum ini seringkali menyakitkan bagi para konsumen.
Katakanlah Joko yang sedang berada di tempat ziarah kebelet pipis, benar-benar kebelet. Mencari toilet kesana-kemari, untuk kemudian menemukan sebuah tulisan besar di hadapannya, “TOILET”. Bahagia sekali ia setelah menemukan pertolongan itu, segera masuk ke dalam untuk menuntaskan kebutuhannya, dan kemudian membaca serangkaian tulisan di tembok kamar mandinya:
Wudhu Rp 1.000
Kencing, Berak Rp 2.000
Mandi Rp 3.000
TIDAK BAYAR BERARTI HUTANG
Aih, malang sekali Joko ini. Setelah gembira melihat sebuah pertolongan, hatinya ganti mangkel, merasa dibohongi. Karena Joko tinggal di desa, tentu saja ia tahu kalau uang 2.000 adalah nominal yang cukup besar, uang itu cukup untuk mendapatkan sebungkus nasi dan satu buah mbakwan. Namun kali ini ia harus merelakannya untuk sekedar pipis, curr…..
Pengennya Joko sih tidak usah bayar, langsung kabur begitu keluar dari kamar mandi. Tapi kalimat terakhir dari tulisan di kamar mandi menghadangnya: TIDAK BAYAR BERARTI HUTANG. “Aduh, bagaimana ini?” Joko bingung. Mau tidak mau ia harus membayar.
Pada dasarnya Joko fine-fine saja untuk membayar 2000 ke penjaga toilet, tapi sistem yang dipakai membuat hati Joko benar-benar mangkel bin jengkel. Dari luar terlihat ingin memberi pertolongan, tapi ketika sudah masuk ke dalam, ia menusuk dari belakang.
Joko bilang kepada saya, “Harusnya penjaga toilet itu langsung menulis biayanya di tulisan depan, ‘TOILET: wudhu 1000, kencing 2000, mandi 3000’, biar jelas dan tidak terjadi salah paham. Bukannya memunculkan kesan gratis di depan, dan di dalam baru dikasih tau kalau bayar. Setidaknya dari luar saya kan bisa menyiapkan uang untuk membayar.”
Dari kisah Si Joko, kita beralih ke kisah Bambang. Kasusnya agak berbeda dengan Joko, karena kali ini Bambang sedang berada di sebuah rumah makan. Walaupun kejadiaannya ya.. tidak jauh berbeda, Bambang sama-sama merasa dibohongi dengan tulisan TOILET di depan dan rincian biayanya di dalam kamar mandi.
Setelah menuntaskan kebutuhannya Bambang menghampiri ibu tua yang menjaga loket pembayaran, dan memberanikan diri untuk bertanya, “Ini bayar, Bu?”
Si Ibu tua dengan sengak menjawab, “Ya mbayar lah! Air ini airnya siapa? Listriknya punya siapa? Tempatnya ini juga punyanya siapa?!”
Belum selesai Ibu tua itu ngoceh, Bambang sudah kabur terlebih dahulu, kembali menghampiri makanan ala masakan padang yang tadi sudah ia pesan. Ia bernapas lega, karena Ibu tua itu tidak mengejarnya karena belum bayar biaya pipis.
“Saya kira tidak usah membayar. Jadi toilet itu jadi semacam fasilitas untuk orang yang makan di rumah makan itu, tapi ternyata harus bayar. Lah, karena uang saya pas hanya untuk makan saja, dan tidak cukup untuk bayar pipis, saya langsung kabur... wushh, untung penjaganya tidak ngejar saya.” Bambang bercerita pada saya.
Walaupun pada dasarnya keberadaan toilet itu sangat membantu, namun kalau sistemnya seperti itu yang terjadi bukanlah saling menguntungkan antara produsen dan konsumen, tapi si produsen menjebak konsumen. Minimal dibuat seperti usulnya Joko lah, dari depan langsung dikasih tahu kalau harus membayar. Agar konsumen tidak merasa dibohongi dan antara produsen-konsumen terjadi transaksi yang saling menguntungkan.

*catatan satu tahun lalu

Sabtu, 02 Juli 2016

Tentang Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri Yang Benar

Tidak terasa bulan Ramadhan sudah hampir selesai, dan orang-orang pun mulai ramai mempersiapkan diri untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. 
Seiring hendak datangnya Idul Fitri ini, saya menerima beberapa broadcast dan melihat beberapa tulisan di forum yang cukup menggelitik, tentang Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri Yang Benar.. Garis umum pembahasannya yaitu bahwa ucapan selamat idul yang benar adalah “taqabbalallhu minna waminkum”, sementara “minal aidin wal faizin” & mohon maaf lahir dan batin adalah ucapan yang salah kaprah. Salah satunya pembahasannya di forum Kaskus ini.

Sebenarnya hal seperti ini adalah bahasan lama, tapi tiap mau Idul Fitri selalu saja menjadi viral lagi, dan sepertinya banyak orang yang menerimanya begitu saja---membuat saya semakin tergelitik untuk membahasnya.

Di sini saya mau membahas itu, saya usahakan agar bahasannya menyeluruh dan tetap mudah dipahami...

1) Pada dasarnya, ucapan doa itu bebas


Kalo konteks ucapan doa (di luar ibadah mahdhah seperti sholat), tidak ada hadisnya pun dibenarkan. Doa mau ujian doktor, doa mau naik gaji, atau doa mengakhiri masa jomblo, boleh-boleh saja dengan redaksi apapun selama itu doa untuk kebaikan.

Dasarnya ini:
Ucapan selamat atau Tahniah atas datangnya momen tertentu telah menjadi suatu tradisi atau adat yang selalu berbeda-beda di tiap masyarakat. Sementara hukum asal atas suatu adat adalah boleh, selagi tidak ada dalil tertentu yang mengubah dari hukum asli ini. Mayoritas ulama menyatakan, ucapan selamat pada hari raya hukumnya adalah ibahah/boleh (lihat: al-Adab al-Syar'iyah, jilid 3, hal. 219).
Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, ucapan selamat (tahniah) secara umum diperbolehkan, karena adanya nikmat, atau terhindar dari suatu musibah, dianalogikan dengan validitas sujud syukur dan ta'ziyah (lihat al-Mausu'ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, jilid 14, hal 99-100).
Dari sini kita bisa menyimpulkan kalau ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri itu bebas, selama yang diucapkan itu (doa) isinya kebaikan:
- Taqabbalallhu minna wa minkum
- Minal aidin wal faizin
- Mohon maaf lahir dan batin
- Sugeng riyadi, nyuwun pangapunten saking sekatahipun kalepatan
- Selamat ya
- dll

2) Ucapan yang baik itu dicontohkan Rasulullah dan para Sahabat


Lalu, untuk lebih baiknya, ucapan doa yang kita keluarkan tersebut hendaknya dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat. Dalam hal ucapan idul fitri ini, ucapan yang dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah: “taqabbalalllahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).
Ucapan tersebut merupakan kebiasaan di antara beberapa sahabat, di antaranya: Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Maka dari itu, alangkah baiknya jika ucapan selamat yang kita ucapkan itu sebagaimana yang dicontohkan, “taqabbalalllahu minna wa minkum”. Tapi jangan berhenti di situ, kita kembali ke poin pertama tadi, sehingga bukan berarti doa dan ucapan lain yang baik itu tidak diperbolehkan.

3) Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin


Ucapan itu yang paling sering kita dengar sebagai rakyat Indonesia Raya. Bagaimana sih artinya yang benar?
Minal Aidin Wal Faizin, secara tekstual artinya, “Semoga kita termasuk orang yang kembali dan menuai kemenangan”

Beberapa orang menyangsikan arti kalimat tersebut. Kembali terhadap apa? Menang terhadap apa? Apakah “kembali pada kemaksiatan pascaramadhan, meraih kemenangan atas bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan”?

Tentu saja tidak. Anak kecil pun tidak akan mau mengucapkan nya kalau maknanya seperti itu.

Makna popular & lengkap kalimat tersebut adalah “Ja'alanallahu wa iyyakum MINAL 'AIDIN ilal fithrah WAL FAIZIN bil jannah” (Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang yang kembali pada fitrah dan menuai kemenangan dengan meraih surga).
Jadi jangan khawatir. Maknanya bukan kembali ke perbuatan maksiat dan menang telah menaklukkan Ramadhan. Adapun yang dimaksud dengan kembali pada fitrah adalah: Islam dan kesucian.

Ini dasarnya:
Apa makna fitrah? Setidaknya ia memiliki dua makna: Islam dan kesucian
Makna pertama diisyaratkan oleh hadits (artinya): "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia (sebagai/seperti) Yahudi, Nasrani, atau Majusi."
Sisi pengambilan kesimpulan hukum atau wajh al-istidlal-nya, Nabi telah menyebutkan agama-agama besar kala itu, namun Nabi tidak menyebutkan Islam. Maka fitrah diartikan sebagai Islam.
Dengan ujaran lain, makna kembali ke fitrah adalah kembali ke Islam, kembali pada ajaran, akhlak, dan keluhuran budaya Islam.
Makna fitrah yang kedua adalah kesucian. Makna ini berdasarkan hadits Nabi (artinya), "Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, mencabut/menghilangkan bulu ketiak, dan memotong kuku." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kelima macam fitrah ini semuanya kembali pada praktik kebersihan dan kesucian. Dapat disimpulkan kemudian bahwa makna fitrah adalah bersih dan suci.
 So, adalah hal yang keliru jika ada orang yang mengatakan bahwa ucapan “Minal Aidin Wal Faizin” adalah hal yang salah kaprah..

Lalu, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Pertama di sini perlu kita tekankan, bahwa, memang benar Idul Fitri bukan waktu khusus untuk bermaaf-maafan. Namun demikian, tidak salah juga jika kita mohon maaf di waktu Idul Fitri kepada para saudara dan sahabat atas seluruh kesalahan kita kan? Toh, meminta maaf ini juga bisa membantu kita untuk meraih fitrah/kesucian yang kita harapkan setelah menjalani bulan Ramadhan.

“Mohon Maaf Lahir dan Batin” memang sering bersanding dengan “Minal Aidin Wal Faizin”, tapi bukan berarti kedua kalimat tersebut merupakan translate satu sama lain.
Memaknai Minal 'Aidin Wal Faizin' dengan 'Mohon Maaf Lahir Batin', hanya karena biasanya dua kalimat itu beriringan satu sama lain, itu sama saja dengan 'membahasa-Inggriskan' keset di depan pintu rumah makan dengan welcome, dengan alasan tulisan itu biasanya ada di atas keset.

Demikian itu tiga poin penting yang hendak saya sampaikan, semoga bermanfaat.

Lalu, sebagai penutup, bagaimana ucapan selamat idul fitri yang benar? Sekali lagi, ucapannya bebas terserah anda selama itu berisi pesan kebaikan. Dan akan lebih baik lagi jika dalam ucapan itu menyertakan pula ucapan yang dicontohkan Sahabat—tanpa menutup bahwa ucapan lain juga diperbolehkan.

Tapi menurut hemat saya (pribadi), karena di Indonesia sudah lazim menulis “Selamat Hari Raya Idul Firtri, Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin”, ucapan itu kiranya sudah cukup untuk diucapkan.
Tapi kalau pengen yang lebih bagus lagi boleh-boleh saja. Guru saya di MA dulu malah panjang sekali ucapan Idul Fitrinya (kalau saya tidak salah ingat):
Ja'alanallahu Wa Iyyakum Minal Aidin Wal Faizin Wal Maqbulin, Kullu Amin Wa Antum Bikhoir…. Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, Taqabbal Ya Karim..
(Semoga Allah menjadikan kami dan kalian semua termasuk dalam golongan orang yang kembali kepada fitrah dan menuai kemenangan dengan meraih surga serta diterima amal ibadah kita.. Semoga setiap tahun engkau sekalian semua dalam keadaan yang baik... Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian semua, terimalah Ya Allah….)

Amin….

Semoga dengan pembahasan singkat dari saya ini dapat memberi pemahaman lebih utuh mengenai ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri...

Sumber (untuk bacaan lebih lanjut):
 

Rabu, 29 Juni 2016

Catatan Sedih Kelulusan SBMPTN


via shutterstock.com
Tidak lulus SBMPTN itu rasanya sedih,
Dan akan lebih sedih lagi jika ternyata teman-teman kamu lulus.
Pengumuman SBMPTN kemarin telah memberi kebahagiaan bagi sebagian siswa di Indonesia, dan memberi kesedihan mendalam bagi kebanyakan siswa lainnya.
Kebetulan kemarin Yono termasuk dalam sebagian siswa yang dibahagiakan oleh pengumuman SBMPTN, ia lulus seleksi. “Keberuntungan itu mungkin tidak pantas saya dapatkan, karena selama persiapan SBMPTN saya lebih banyak bermain-main daripada belajar,” ungkap Yono pada saya.
Menanggapi kebahagiaan yang membuncah itu, Yono berusaha menahan diri, bersikap wajar, dan tidak bocor kemana-mana mengenai kelulusan itu. Karena bagaimanapun juga, ia memahami bahwa di balik kebahagiaannya ada kesedihan dari teman-temannya yang tidak lulus.
Yono mulai memahami hal itu ketika pengumuman SNMPTN lalu. Ketika teman-temannya yang lulus SNMPTN mengungkapkan ekspresi kebahagiaan mereka di dunia maya—secara berlebihan, sedangkan Yono sendiri tidak lulus SNMPTN.
“Rasanya sedih banget, dan berubah menjadi sakit ketika mereka menambah-nambahi: Buat teman-teman yang tidak lulus, jangan putus asa. Tetap ada banyak jalan, dan Allah tahu yang terbaik untuk kita semua. Hati ini semakin mangkel, dan mulut ini pengen misuh,” kata Yono.
Yono benar, walaupun nasehat mereka bagus, namun momennya tidak tepat—dan itu membuat esensi dari nasehat tersebut berubah. Ketika mereka mengungkapkan: Alhamdulillah aku lulus, tinggal ngurus registrasi, ada banyak teman mereka yang dalam hati berbicara: Aduh, piye iki? Aku ora lulus. Kudu miker SBMPTN, sinau neh, mbayar. Aduh yo, yo.. 
Dari situ kemudian Yono belajar untuk menahan diri dan tidak mengungkapkan kebahagiaan kelulusan SBMPTN secara berlebihan—di dunia maya. Dan entah bagaimana bisa, teman-teman Yono yang lulus SBMPTN juga melakukan hal serupa. Mereka tidak mengungkapkan kebahagiaan mereka di dunia maya, mereka tetap bersikap wajar dan tidak berlebihan.
Mungkin mereka juga memahami itu, bahwa bukannya ikut bahagia, teman mereka yang tidak lulus justru akan semakin sedih jika teman yang lulus mengungkapkan kesenangan secara berlebihan.
Maka dari itu, kalau ternyata kamu lulus di SNMPTN atau SBMPTN, atau seleksi lainnya, jangan terlalu over dalam mengungkapkan kesenangan kamu di facebook
Njagani perasaan teman kamu yang tidak lulus,” pesan Yono.

*Adaptasi dari catatan satu tahun lalu

Selasa, 28 Juni 2016

Kekhusyu'an Sebagai Fungsi Posisi

Mayoritas kita adalah orang-orang yang susah untuk mencapai kondisi khusyu' (dalam sholat atau lainnya). Ada sedikit gangguan saja, sholat kita sudah langsung ngawang-ngawang nggak jelas arahnya ke mana.
Maka dari itu, kita masih butuh bantuan pernak-pernik tambahan macam kipas angin, badan segar, baju bagus, lingkungan wangi dan sebagainya untuk bisa khusyu' dalam sholat—lha wong kalaupun kondisi-kondisi itu sudah terpenuhi, kita masih tetep sulit khusyu' kok.
Bagi saya yang susah khusyu' ini, faktor bantuan terpenting dalam mencapai kekhusyu'an adalah posisi: posisi saya dalam sholat berjamaah. Makanya, saya bilang kalo kekhusyu'an saya itu bergantung pada fungsi posisi. Kalau ditulis secara matematis jadinya:


Posisi yang bagaimana? Bukan posisi terdepan, bukan juga posisi paling belakang, walau tidak menutup kemungkinan posisi itu adalah solusinya.
Namun lebih dari itu, posisi ini berkaitan erat dengan sirkulasi udara (baik oleh kipas angin atau lainnya). Saya perlu mencari posisi strategis untuk mencapai aliran udara (dari kipas angin atau lainnya) yang paling efektif: tidak terlalu pelan dan tidak terlalu kencang.
Kalau terlalu pelan (atau malah nggak sama sekali) bisa dipastikan saya akan kegerahan, keringetan, badan lengket-lengket, yang akibatnya kekhusyu'an berkurang.
Begitu juga kalau terlalu kencang, selama sholat itu saya kedinginan, nggak fokus, dan pas sholat selesai saya malah masuk angin.
Kalau dibuat grafik kekhyusu'an sebagai fungsi sirkulasi udara jadinya:
Pembahasan mengenai kekhusyu'an sebagai fungsi posisi (yang selanjutnya menjadi fungsi sirkulasi udara) ini sangat krusial pada saat-saat Ramadhan seperti ini, terkhusus pada saat shalat tarawih berjamaah—yang waktunya lebih lama dibanding sholat lainnya.
Awal-awal Ramadhan pas saya masih di Semarang kemarin, saya ikut sholat tarawih berjamaah di Masjid Kyai Galang Sewu yang posisinya ada di samping kos. Dari pengalaman, saya menemukan kalau posisi ideal untuk sholat tarawih di situ adalah baris paling belakang. Alasannya sederhana, adem. Dan untuk mencapai posisi itu, saya harus pura-pura (dan sengaja) menerlambatkan diri untuk ke masjid biar dapet tempat belakang—terlepas dari fakta saya terlambat beneran.
Pernah suatu kali pas itu saya datang cukup awal, dan dapat tempat di tengah-tengah. Awal-awal sholat tarawih sih masih normal. Tapi begitu masuk rakaat ke-5 dan seterusnya, astaghfirullah, gerah banget—kipas angin tak mampu mengatasinya. Secara fisik saya sholat, tapi pikirannya mencari-cari aliran kipas angin. Daripada sholat tarawih ini jadi nggak bener, saya pun keluar dari barisan menuju tempat wudhu, untuk kembali sholat di barisan belakang. Alhamdulillah, adem.
Lain Semarang, lain rumah.
Sekarang, ketika sholat tarawih di desa saya—di masjid, barisan belakang tidak lagi menjadi posisi ideal untuk kenyamanan sholat saya. Di masjid ini, posisi paling nyaman itu ada di shaf ketiga nomor 1 sampai 4 dari kiri. Alasannya sama, adem, karena pada daerah itu kipasnya cukup stabil: tidak terlalu kencang tidak pula terlalu pelan. Karena kondisi yang seperti itu, saya pun agak ngotot untuk mendapatkannya. Kalau shaf depannya masih kosong, saya lebih memilih menghindar dulu—daripada harus mengisinya. Baru kalau keadaan mendukung, saya langsung jenggirat menuju tempat tersebut: shaf ketiga nomor 1 sampai 4 dari kiri.
Tapi..
Walau seluruh kondisi tadi sudah terpenuhi, nyatanya kok saya masih tetap nggak bisa khusyu' ya..
Ternyata memang kekhusyu'an bukan semata-mata dipengaruhi oleh posisi dan kipas angin. Kalau posisi dan kipas angin sudah pas, tapi orang di samping berbau kurang sedap, perut laper, mikirin film, kebelet pipis, imamnya lama, dan sejenisnya ya susah untuk khusyu'.
Contohnya saya ini, posisi sholat dan kipas angin sih udah pas, tapi kok pas sholat malah mikirin posting blog kayak gini…
Astaghfirullahal adzim
   

Senin, 27 Juni 2016

Masih Tentang SIA UNDIP

Dari sekian banyak tulisan saya di blog, tulisan yang paling banyak dibaca orang adalah tulisan mengenai SIA (Sistem Informasi Akademik) Undip. Tulisan itu saya buat semester satu lalu, ketika SIA sedang mengalami gangguan—bukan sekedar server down. Saya menulis sedikit tentang gangguan itu, lalu ada pula tips untuk membuka SIA dengan mudah, dan ada trik lain membuka SIA lewat web proxy Anonymouse FSM (Fakultas Sains dan Matematika).
Dan sekarang, ketika mahasiswa sedang aktif-aktifnya mengunjungi SIA—untuk melihat nilai dan mengisi Kartu Rencana Studi (KRS), lagi-lagi topik tentang SIA di blog saya mendapat kenaikan view.
Jan-jan e nggak banyak yang berkunjung ke blog saya, tapi ya itu tadi.. dari nggak banyak orang yang berkunjung itu kebanyakan (hanya) membaca tulisan tentang SIA. Hal itu diperkuat lagi dengan fakta daftar pencarian di google (beberapa waktu lalu) yang mengarah ke blog saya, yang hasilnya pun nggak jauh-jauh dari tema SIA Undip:




Sepertinya SIA Undip membawa kebaikan untuk blog ini, padahal waktu awal saya nulis tentang itu nggak ada sedikit pun pikiran kalau tulisan itu bakal dapet view tinggi.
Seberapa tinggi?


Sebenernya cuma seribuan sih.. tapi dibandingkan dengan tulisan-tulisan lain di blog saya yang cuma dapet 10 view (itupun saya yang buka), angka 1000 itu sangat besar. Sungguh.

***

Alhamdulillah, sampai saat ini web SIA Undip masih sehat wal afiat, dapat diakses dengan lancar dari luar kampus--walaupun yang mengakses banyak. Semoga saja SIA Undip bisa terus sehat sampai ke depannya. Amin.

Rabu, 15 Juni 2016

Catatan Ujian Open Book


Ujian, dalam artian sempit sebagai Ujian Tengah atau Akhir Semester, memiliki dua garis besar: ujian close book (yang sudah wajar) dan ujian open book (yang sebenarnya juga wajar). Dua garis besar tersebut kemudian diikuti oleh dua garis besar reaksi peserta ujian:
1. Reaksi terhadap ujian close book
Ujian jenis ini relatif lebih sering dilakukan di jenjang pendidikan dasar, menengah, sampai tinggi. Menanggapi ujian jenis ini, kita semua tahu reaksinya, rata-rata peserta akan mati-matian belajar sehari sebelum ujian karena besoknya ia harus menyelesaikan soal yang membutuhkan pemahaman belajarnya sebelumnya. Itu sudah biasa, dengan catatan jangan cuma belajar sehari sebelum ujian saja.
2. Reaksi terhadap ujian open book
Dibanding ujian close book, ujian open book relatif lebih jarang dilakukan, dan biasanya ini ditujukan untuk menguji pelajaran yang terbilang banyak materinya, dan tidak memungkinkan (tidak terlalu penting juga) untuk dihafalkan---tapi ya nggak mesti.
Ketika mengetahui bahwa ujian yang akan dilakukan berjenis open book, rata-rata peserta ujian akan bersuka cita, pasalnya mereka tidak perlu mati-matian belajar sehari (atau semalam) sebelum ujian karena besok bisa buka buku untuk menjawab soal.
Namun, sesederhana itukah?
Sayangnya tidak.
Kenyataannya, bahkan ketika ujian yang dilakukan berjenis open book, para peserta kerap kesulitan menjawab soal. Alasannya jelas: mereka terlalu menganggap enteng dan mengandalkan buku---padahal ia belum pernah membaca bukunya sekalipun. Maka dari itu, walaupun soal yang diujikan (seluruhnya) ada di buku, mereka tetap kesulitan menjawab karena tidak tahu bagian tepat di buku yang sesuai pertanyaan.
Nah!

Selasa, 10 Mei 2016

Berdoa Menurut Agama dan Kepercayaan Masing-Masing


Dalam (hampir) semua kegiatan yang kita lakukan sehari-hari, seringkali kita mengawalinya dengan doa bersama. Untuk itu, setiap kali hendak memulai kegiatan, ketua kegiatan memimpin prosesi doa bersama dengan berucap, "Sebelum kita mulai kegiatan pada hari ini, mari terlebih dahulu kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa mulai..." selang waktu tidak ada satu menit.. "berdoa selesai."
Pertanyaannya: doa apa yang orang-orang ucapkan dalam kesempatan singkat itu?
Saya pribadi, dulu memanfaatkan kesempatan itu dengan doa singkat, semoga kegiatan kali ini berkah. Pernah juga beberapa kali membaca doa serupa dengan ruang lingkup yang lebih luas, rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzabannar. Karena doa yang singkat itu, saya kerap selesai berdoa lebih dahulu daripada batas waktu singkat yang diberikan.
Lalu seiring berjalannya waktu, mayoritas kesempatan doa itu saya gunakan membaca surat al fatihah. Ternyata waktunya pas! Hehe*

Cuma anekdot saja, yang terpenting sih bukan pas/tidaknya timing doa, tetapi lebih pada keseriusan dan kekhusyu'an doa.
Al-Fatihah...

Minggu, 01 Mei 2016

Mencuci Baju Bersama Iron Man


Apa yang harus diperhatikan saat mencuci baju?
Salah satunya adalah kotoran yang menempel di baju. Untuk itu, kita setidaknya harus menggunakan sabun cuci dan menguceknya agar kotoran itu bisa hilang.
Namun kenyataannya, pada kebanyakan baju kotor di dunia ini sebenarnya tidak terdapat banyak kotoran. Yang ada hanya bau tak sedap yang biasanya disebabkan oleh keringat dan lain-lain.
Oleh sebab itu, dalam mencuci baju tidak penting-penting amat untuk memberi sabun cuci dan mengucek baju lama-lama. Yang terpenting, proses mencuci ini dapat menghilangkan bau tak sedap yang ada. Sehingga dihasilkan baju yang wanginya semerbak. Bukankah kita sangat senang dengan bau wangi pada pakaian?
Lalu, bagaimana caranya?
Tentu ada banyak cara, tapi saran saya, mencucilah bersama Iron Man
Iya, Iron Man.. Kalian kenal Iron Man, bukan? Nama aslinya Robert Downey Jr. Mencucilah bersamanya.

*tidak berlaku untuk pakaian yang benar-benar kotor.

Minggu, 20 Maret 2016

Earth Hour, Lampu, dan Mahasiswa Undip

“Percayalah, perayaan Earth Hour tidak akan bisa menyelamatkan dunia.”
Beberapa hari terakhir kita sering melihat kampanye #EarthHour di berbagai media sosial, mulai dari Facebook, grup Line, dan lain-lain. Earth Hour sendiri merupakan kegiatan global yang dimotori oleh WWF (World Wide Fund for Nature) setiap tahun di bulan Maret untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya tindakan serius menghadapi pemanasan global. Kegiatan ini berupa memadamkan lampu yang tidak benar-benar diperlukan selama satu jam.
Earth Hour tahun ini dilakukan pada tanggal 19 Maret pukul 20.30–21.30 di banyak kota dan negara, salah satunya di Indonesia. Di Indonesia sendiri, berbagai kalangan aktif untuk mengkampanyekan kegiatan Earth Hour ini, terutama dari kalangan aktivis pecinta lingkungan, lebih-lebih dari golongan mahasiswa.
Namun sayang, banyak di antara aktivis mahasiswa tersebut gagal paham dengan makna Earth Hour ini, bahwa Earth Hour adalah langkah apik dengan memadamkan lampu selama satu jam yang dapat menghemat energi dan mengurangi dampak pemanasan global, atau singkatnya menyelamatkan dunia. Memang benar dalam kegiatan Earth Hour tersebut ada sejumlah energi yang dihemat, tapi sebenarnya jumlahnya sangat tidak signifikan.
Semakin disayangkan jika aktivitas seremonial dalam rangka Earth Hour justru diisi dengan kegiatan yang sebenarnya berkebalikan dengan semangat hemat energi dan mencegah pemanasan global. Salah satu di antaranya adalah aktivitas seremonial memadamkan lampu, untuk kemudian berkumpul di satu tempat dan menyalakan lilin bersama-sama. By the way, lilin pada dasarnya termasuk bahan bakar fosil, yang jika dinyalakan akan mengemisikan gas karbondioksida dan melepaskan panas jauh lebih banyak daripada penggunaan lampu—terutama jenis lampu hemat energi generasi sekarang. Jadi, jika lampu pada sebuah gedung dimatikan dan kita menyalakan lilin bersama-sama, jatuhnya justru terjadi pemborosan energi dan pengemisian karbondioksida.
Pihak WWF dan panitia Earth Hour sendiri sadar akah hal tersebut, dan menegaskan bahwa kegiatan Earth Hour bukan ditujukan sebagai momen untuk menghemat energi dan mencegah pemanasan global, tetapi lebih ditujukan sebagai bentuk reminder, dan sepatutnya tidak diisi dengan kegiatan seremonial yang bertolak belakang dengannya.
Earth Hour ditujukan sebagai pengingat untuk kita agar peduli dan mau menangani masalah pemanasan global yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Saat ini suhu Bumi tercatat telah meningkat sebesar satu derajat celsius setelah revolusi industri 100 tahun terakhir, dan semakin meningkat tajam di tahun-tahun ini. Walaupun kenaikan suhu satu derajat tidak terlalu berpengaruh pada tubuh kita, kenaikan kecil itu merupakan gangguan besar bagi alam. Peningkatan satu derajat celsius telah merubah banyak hal dari alam: mulai dari kekeringan, ketersediaan air bersih dan makanan, pola hujan, dan masih banyak lagi.
Maka dari itu setelah momen Earth Hour kemarin sudah sepatutnya kita kembali mengingat dan peduli keadaan alam di sekitar kita, daripada sekedar mematikan lampu selama satu jam dan tidak ada yang esensi yang membekas darinya. Earth Hour hendaknya dijadikan kebiasaan, bukan sekedar perayaan.
Salah satu penyumbang terbesar emisi gas karbondioksida di dunia adalah kendaraan bermotor, dan kita semua tahu bahwa hampir semua mahasiswa Undip setiap harinya menggunakan kendaraan bermotor. Maka dari itu, setelah setelah memadamkan lampu selama satu jam, sekarang saatnya untuk langkah nyata setelah Earth Hour, yang dapat dilakukan dengan mengurangi intensitas penggunaan kendaraan bermotor kita ke kampus. Atau yang lebih baik lagi, bagaimana jika kita berinisiatif untuk mengadakan hari tanpa kendaraan bermotor di Undip, sehingga seluruh mahasiswa Undip berjalan kaki menuju kampus? Menurut hemat saya pribadi, itu sangat sulit dilakukan. Namun jika memang bisa diwujudkan, pasti sangat menarik!

*dimuat di kanal Opini LPM Manunggal Undip
 

Sabtu, 27 Februari 2016

Widya Puraya, Venus, dan Putaran Elektron


Selama satu semester ini saya telah beberapa kali lari, jalan, atau sekedar duduk di lingkungan taman Widya Puraya (WP) Undip, dan selama itu pula saya merasa normal-normal saja dengan semua keadaan di sana: orang-orang yang jogging, diskusi, foto-foto, dan semuanya.
Baru tadi sore pas di WP, saya kepikiran hal menarik. Saya menyadari kalau ada sesuatu yang aneh dengan arah putaran dari orang-orang yang jogging mengelilingi taman WP Undip. Arahnya searah jarum jam!


Iya, terus kenapa?
Tentu saja itu menarik, karena pada normalnya orang-orang akan lebih mudah (lebih nyaman, lebih natural) berkeliling dengan mengambil arah berlawanan jarum jam. Lihat saja lintasan lari atlit-atlit, lintasan balap mobil, dan sebagainya, yang mengambil arah berlawanan jarum jam. 


Sejauh yang saya tahu, kecenderungan orang untuk berkeliling dengan arah searah/berlawanan jarum jam berkaitan dengan kidal/tidaknya seseorang. Orang tangan kanan (right-handed) cenderung untuk berkeliling dengan arah berlawanan jarum jam, sementara orang tangan kiri/kidal (left-handed) cenderung untuk mengambil arah searah jarum jam. Namun, entah bagaimana bisa, semua orang yang jogging mengelilingi taman WP justru mengambil arah jarum jam (yang artinya kidal). Apakah semua orang yang jogging itu kidal? Tentu saja tidak. Saya yang tidak kidal juga mengelilingi taman WP searah jarum jam kok, dan menurut saya itu tidak lebih karena saya mengikuti arah jogging orang-orang sebelumnya.

Kalau kita tarik lebih jauh, jauh dari taman WP, pembahasan mengenai arah putaran ini sangatlah menarik.

Mari kita lihat Bumi kita. Jika dilihat dari kutub utara (geografis), Bumi berotasi melawan jarum jam. Lalu, angin tornado dan pusaran air juga berputar berlawanan arah jarum jam (belum saya pastikan). Arah putaran thawaf pun juga berlawanan arah jarum jam. Dan di fisika, arah putaran sudut serta aturan tangan kanan arus listrik-medan magnet juga diambil berlawanan arah jarum jam. Apa ini? Apakah alam suka berputar berlawanan arah jarum jam? Mungkin, tapi nggak juga.


Bagaimana dengan arah elektron dalam mengelilingi inti atom? Katanya-katanya sih berlwanan arah jarum jam juga, tapi ayo kita pikir sebentar, karena dalam skala atom pembahasan tentang arah ini menjadi bias. Anggap sebuah elektron mengelilingi inti atom (anggap saja).

Bayangkan anda melihatnya dari atas, dan elektron itu berputar berlawanan jarum jam. Sekarang bayangkan sistem inti atom dan elektron itu anda balik (seperti membalik piring), atau mungkin anda ganti melihat mereka dari bawah, dan taraa.. elektron itu berputar searah jarum jam. Seperti itulah, di dunia atom searah/berlawanan jarum jam adalah bias. Belum lagi model elektron yang mengelilingi inti atom seperti planet mengelilingi matahari adalah model yang keliru.
Kasus lain, apakah anda pernah makan di warung dan memesan minum es teh manis? Anggap saja pernah. Dan jika pernah, pasti anda tahu kalau mas  penjaga warung seakan malas untuk mengaduk gula yang telah ditambahkan ke dalam teh, sehingga anda terpaksa mengaduknya sendiri. Nah, coba perhatikan arah adukan anda. Bagaimana? Saya pikir anda (right-handed) akan mengaduk searah jarum jam. Iya, kan?
Ketika anda telah menyadari arah adukan anda, anda akan sadar kalau pembahasan ini sudah terlalu jauh. Mari kembali ke pembahasan utama kita.

Kenapa arah putaran jogging di taman WP searah jarum jam, sementara normalnya arah putaran orang tangan kanan adalah berlawanan jarum jam. Apa mungkin taman WP ini seperti Venus? Yang putaran arahnya berlawanan dengan planet-planet lainnya dalam mengelilingi matahari? Entahlah.
Kemungkinan terkuat saya, hal itu dikarenakan satu orang yang paling dulu jogging kebetulan mengambil arah searah jarum jam, dan orang-orang yang jogging setelahnya mengikuti arah orang tersebut.
Kalau memang demikian, kasusnya semakin menarik, karena harusnya saya mencoba untuk menjadi orang pertama dan berlari mengelilingi taman WP dengan arah berlawanan jarum jam, dan lihat apakah orang-orang setelah saya mengikuti arah putaran saya.
Kendalanya, saya harus mengumpulkan cukup niat untuk menjadi orang pertama yang lari di sana. Dan kapan itu saya lakukan? Saya belum tahu.

Minggu, 14 Februari 2016

Simple Thought About GPA

GPA (Grade Point Average) is the value given as academic achievement to the student. There is much of pro and con about how GPA can actually calculate the academic quality of student, one side say that GPA is anything and other side say that GPA is nothing. In this short article, I will describe my opinion about GPA.

 

Basicly, the exam held to test the output of studying and learning process



Why the exam held? Because it will test the output of studying process during a periodical time, that's the real aim. But we must think critically, is can we test the output of studying process with exam? Because most of student don't study enough seriously during studying process and only take short study a day before exam, the real aim of exam can't be reach. And then they will forgot about what they study after exam held, the real aim really can't be reach.
So, because of that, the value of exam (that will convert to GPA) don't calculate precisely the academic quality of student.
And then we also must take an aproachment, if the student never study anything during exam, altought he take a short “extreme” study a day before exam, his exam value is impossible to be best. Yes, that's the point! The exam value don't calculate precisely the academic quality of student that they get during study process, but exam value can be a big representation of their quality, because the student that seriously study suring the process is have more opportunity to get high value (GPA), vice versa.

 

Life is not about your GPA, but you also can't neglect it 

 


As I say in the paragraph before, the GPA can be a big representation from output during proces of formal study. The higher value mean that the student have more industriousness on formal study.
But you can't neglect a fact that the real life is not just formal study, life need real process of studying and learning, learn from other people, nature, and anything. So, because of that, altought GPA can be a big representarion of formal study output, it can't be a big representation of real quality overall. There is a pattern, that some of people more attracted to learn in formal study and the other more attracted to learn in nonformal study.
We must keep being netral, altought some people more attracted to learn in nonformal study, the formal study can't be neglected. As it name, formal study, give a formal quality that can't be neglected. A man who say that the value of formal study (you can say it GPA) is nothing more just a useless number maybe wrong, because if right he is more attracted to seriously study in nonformal study he will understand the value of his formal study give a representation of a part of his life. And nothing wrong with formal study while the process passed with true, because it will increase quality of him.

That is the two big part of my opinion about GPA. The conclusion is GPA give a big representation of formal study output, but it can't be a big representation of human human overall. There is people who attracted to learn in formal study, and other in nonformal study, the right preception is that one of them don't neglect the other. So, the formal and nonformal must walk together, and one of them must be better appropriate the interest. GPA is something, not anything: you can't revere it, and also can't neglect it.
By the way, I will tell about my GPA in my first semester in university. It is 4.0, people say that it is perfect, but I think no. This GPA, in my opinion, not give real representaion of my formal study (as I say before), because of several thing: the question of exam is same with exam of year before, the quality of question is not represent all of studying process, the value given haphazardly, etc. If that several thing can be done, I think that mine is not perfect again. And then, much of ability that I can't do altought my grade is perfect, like several proces and technique of physics & chemistry experiment, I just can do in theory whereas experiment is more important ability. Beside of them, much of nonformal ability that I don't have yet, like sosialisation skill, comunication skill, public speaking, self control, and other.
As a close statement, I will say that my GPA is not represent all quality of my formal study, and it is not mean anything about my nonformal ability. So, I want to keep studying, learning, and improve my skill.

*Note (maybe needed): GPA in Indonesia is IPK (Indeks Prestasi Kumulatif)

Jumat, 29 Januari 2016

Sang Penyebar Semangat Inovasi, Penggagas.com!



Kreativitas dan inovasi merupakan hal mendasar yang dibutuhkan oleh seseorang (atau secara umum negara) untuk dapat hidup dan berkembang di kancah internasional saat ini. Kemajuan pesat di negara barat tak pelak lagi memaksa kita untuk menjadi sekedar teri kecil yang terus menerus menjadi konsumen, sedang mereka menjadi tokoh terhebat dalam kisah di dunia ini. Kemajuan besar pasti diraih melalui kemajuan-kemajuan kecil sebelumnya, yang di dunia barat ditunjukkan melalui semangat inovasi teknologi yang menggebu-gebu, dan bahu-membahu untuk berkarya menjadi lebih baik. 
Dan kita semua tahu, kita (negara kita) kalah besar dalam hal itu.
Negara Indonesia memiliki sumber daya dan kemampuan, tapi belum memiliki iklim yang menumbuhkan semangat inovasi. Pada dasarnya kita hebat, tapi kehebatan itu tenggelam, kalah tenar dengan serbuan inovasi dari negara lain. 

*** 

Paragraf pembuka di atas mungkin terlalu berlebihan, terlalu menggebu-gebu, tapi tidak masalah karena saya memang sedang bersemangat delam menulis ini. 
Inti dari paragraf di atas adalah bahwa kita (sebagai individu ataupun negara) pada dasarnya memiliki kemampuan hebat, tetapi belum memiliki lingkungan yang tepat untuk menumbuhkan inovasi. Padahal, inovasi itulah yang sedang sangat dibutuhkan saat ini. 
Pertanyaannya, bagaimana kita bisa mendapatkan lingkungan yang menumbuhkan semangat inovasi? 
Jawabannya adalah Penggagas!

“Penggagas.com adalah sebuah situs online yang berfungsi sebagai wadah bagi para pemikir, pengembang, dan inovator di Indonesia untuk diskusi, kolaborasi dan konsultasi mengenai project inovatif.” Keterangan pada bagian about us di webiste Penggagas.

Sebagaimana disampaikan dalam video perkenalannya, Penggagas berusaha untuk menciptakan iklim inovasi dan menumbuhkan semangat inovasi di Indonesia. Dan menurut hemat saya, apa yang dicita-citakan oleh penggagas akan benar-benar tercapai (Amin). 
Iklim inovasi yang dicanangkan Penggagas dibentuk melalui tulisan-tulisan up to date yang menunjukkan inovasi-inovasi teknologi keren dari seluruh dunia, tulisan yang berisi ajakan untuk berinovasi, analisis saintifik terhadap suatu ide, tips-tips inovasi, dan masih banyak lagi lainnya. Dengan penyampaian saintifik yang mudah dipahami semua orang, tulisan-tulisan di Penggagas layak untuk dibaca sebagai referensi dan motivasi dalam berinovasi. 
Untuk mengetahui lebih jelas mengenai tulisan yang ada di Penggagas, silahkan langsung kunjungi websitenya di www.penggagas.com. Pertama-tama Anda akan disuguhi tampilan website minimalis yang keren, lalu Anda akan tertarik dengan setiap judul tulisan yang ada. Sebut saja Fontus: Botol yang Otomatis Memproduksi Air Minum dari Udara, Cermati Rahasia Coolest, Pendingin Prtable Yang Menggemparkan Kickstarter, dan masih banyak lagi lainnya. 
Penggagas.com didirikan oleh orang-orang yang telah terbukti ahli dalam di bidangnya masing-masing dan punya semangat tinggi dalam hal berinovasi. Mereka adalah Arfi'an Fuadi, Arif Sony Wibowo, Adit widya Pradipta, Fajar Budi Laksono, Willy Anugrah, Taufiq Syahrir, Hendrik Santosa, Cahyo Tri Satrio, Andri Ongko Wijoyo. Untuk mengetahui profil dan keahlian mereka masing-masing, siahkan lihat di sini. 
Intinya bahwa Penggagas benar-benar memiliki misi untuk menebar semangat inovasi ke seluruh pelosok Indonesia. 
Saya sendiri, walau sampai saat ini belum bisa berinovasi secara besar-besaran, merasakan manfaat besar dengan kehadiran Penggagas. Mulai paham bahwa dunia ini luas, masih ada banyak hal yang perlu dipelajari dan dieksplorasi, dan kita harus berinovasi. 



Selasa, 26 Januari 2016

Alan Turing dan Sherlock Holmes



Ada semacam hal tak terpisahkan ketika saya menonton film biografi Alan Turing di The Imitation Game dan menonton serial Sherlock Holmes di Sherlock Holmes Series. Rasanya ada sesuatu yang menghubungkan kedua film tersebut.
Latar tempat di Inggris, ya, itu benar. Kedua film tersebut mengambil latar tempat di Inggris. Tapi bukan itu yang membuat kedua film ini terasa sangat berhubungan.
Karakter seorang cerdas, pemikir handal, yang sayangnya tidak punya banyak teman. Ya, sekali lagi itu benar. Walaupun ini sedikit menunjuukan hubungan, bukan itu hubungan sebenarnya. Bukan itu hubungan yang saya rasakan.
Apa mungkin di dunia nyata Alan Turing pernah bekerja sama dengan Sherlock Holmes?
Tentu saja tidak. Karena pada dasarnya Sherlock Holmes adalah sebuah tokoh detektif fiktif yang diciptakan Sir Arthur Conan Doyle, yang tidak ada di kehidupan nyata.
Namun demikian, saya tetap saja merasa ada hubungan erat antara Alan Turing dan Sherlock Holmes. Terutama di dalam film tersebut.
Cara bicara Alan Turing, persis sama seperti Sherlock Holmes. Setiap dengusan napas dan teriakan Sherlock Holmes, terasa kalau Alan Turing yang melakukannya. Apa ini?

***

Terlepas dari semua hubungan di atas, saya menyadari satu hal. Alan Turing adalah Sherlock Holmes, dan Sherlock Holmes adalah Alan Turing. Bukan karakternya, tapi memang benar demikian. Bahwa pemeran Alan Turing di The Imitation Game adalah pemeran Sherlock Holmes di Sherlock Holmes Series.
Itu hubungannya! 
Benedict Cumberbatch!


 


Kamis, 07 Januari 2016

Cerita Dari Member Gratisan Zenius

lucaforni.com

“It doesn't matter how much resources you have. 

If you don't know how to use them, it will never be enough.” 

---Kata meme di internet. 


Saya pikir quote tersebut sangat benar adanya, bukan tentang seberapa banyak fasilitas yang kita punya, tapi bagaimana kita memanfaatkan fasilitas itu semaksimal mungkin. Konteks kalimat tersebut sangat luas dan mencakup banyak hal, tak terkecuali dalam hal ini pengalaman saya berpetualang bersama Zenius
Apa itu Zenius?
Itu loh.. lembaga pendidikan online anti-mainstream yang pembelajarannya melalui video tulisan tangan dan suara tentor. Lebih jelasnya cari aja di google.
www.zenius.net

Awal Pertemuan


Waktu awal pertama kali saya bertemu Zenius itu saya lupa. Entah kelas XI atau XII MA, saya lupa. Yang tidak saya lupa itu bagaimana saya bertemu dengannnya. Dengan arahan google, saya diarahkan ke alamat web zenius di www.zenius.net.
Kalo boleh jujur, sebenarnya pas saya tahu zenius saya mikirnya pasti ini cuma bimbel yang ngajarin pake rumus cepet, sebagaimana stereotip bimbel yang ada di pikiran saya. Tapi tunggu dulu, kita lihat lebih jauh.
Pertama kali melihat web itu saya mengamati tampilan webnya dan berkata dalam hati, “Ooh.. boleh lah.” Kemudian membaca-baca deskripsi produknya, dan saya berkata “Pembelajaran berbasis konsep ya? Semoga aja bener-bener dilakuin, karena banyak bimbel yang ngaku mengajarkan konsep tapi ujung-ujungnya cuma nyodorin rumus.

Maka saya membuka salah satu videonya, saya lupa itu video kategori apa, tapi saya ingat sekali apa yang saya dapatkan dari situ.

“Bakteri membelah diri menjadi dua setiap 1 menit. Berapa waktu yang dibutuhkan sampai jumlah bakteri ada 16?” 

Yap, jawabannya 4 menit. Tentornya mengajarkan dengan logika, saya juga. Di situ masih biasa-biasa saja, hingga akhirnya sampai di bagian ini:
 
“Bakteri tersebut mengisi penuh sebuah gelas. Berapa waktu yang dibutuhkan bakteri-bakteri tersebut agar jumlahnya dapat mengisi penuh dua buah gelas berukuran sama?” 

Videonya saya pause, saya mulai mikir. Mikir jauh tentang ukuran gelas, jumlah bakteri yang ada di gelas, dan lain-lain, pokoknya lama dan akhirnya saya nyerah.
Jawabannya satu menit! Tentornya menjelaskan, dan saya nepuk kepala, “Oiya!” Bermula dari situlah saya mulai percaya dengan Zenius, bahwa Zenius bukan sekedar lembaga bimbel yang menyodorkan rumus cepat. Lalu saya menikmati beberapa video gratis zenius yang lain.
Apakah saya tertarik menjadi premium member agar bisa mengakses seluruh video Zenius?
Haha, kebetulan tidak. Di satu sisi memang kepingin, tapi lebih banyak sisi yang bilang tidak. Saya belum terbiasa untuk membayar sesuatu yang ada di internet, dan tidak rela mengeluarkan uang untuk itu (ada banyak yang lebih penting, pikir saya). Kalaupun saya menjadi premium member, apa saya mau tiap hari pergi ke warnet untuk mengakses video itu? Kan lucu kalau begitu. Udah gitu saya akan makin banyak mengeluarkan uang (yang kebetulan tidak banyak) untuk ke warnet.
Lalu saya kembali ke quote meme yang saya tulis di awal tadi, nggak apa-apa saya tidak bisa mengakses seluruh video Zenius, saya akan memaksimalkan pemahaman dari video gratis yang ada.

www.zenius.net

Zenius Blog


Selain memaksimalkan penggunaan video gratis Zenius, saya juga memanfaatkan fitur gratisan lainnya, yaitu Blog Zenius! Dan inilah yang paling sering saya manfaatkan.
Pada dasarnya saya suka membaca. Membaca tulisan sains populer, tulisan tentang pendidikan, idealisme, sejarah, dan apapun itu. Kabar baiknya, di blog Zenius semua tema itu ada, ditambah lagi dengan gaya bahasa yang gaul (walaupun saya nggak gaul), saya semakin suka. Tulisan-tulisan itu semakin mengukuhkan posisi Zenius, bahwa Zenius benar-benar bergerak ke arah pendidikan yang benar, pendidikan yang asik, penuh arti, dan bermanfaat di kehidupan nyata.
Sebelumnya saya sudah membaca beberapa buku tentang analisis ilmiah terhadap kecerdasan, psikologi, dan pendidikan, yang memberi saya sudut pandang baru pada terhadap kecerdasan dan dunia pendidikan. Bahwa seorang genius bukan dilahirkan, tapi dicetak. Dicetak melalui hal yang sangat mendasar, yaitu delliberate practice, organized knowledge, focus, dan spiritual motivation. Buku tersebut telah mengubah cara pandang dan langkah yang saya lakukan dalam belajar dan mencapai keahlian.
Di blog Zenius saya kembali menemukan istilah-istilah yang saya temui di buku itu. Mulai dari delliberate practice, yang mengajarkan tentang bagaimana latihan (belajar) terstruktur, rutin, sistematis menjadi bagian terpenting untuk menjadi seorang ahli. Lalu tentang aturan 10.000 jam, cherry picking, pseudoscience, dan banyak pembahasan lain. Di sini saya benar-benar yakin atas kualitas Zenius, karena memang pembahasan-pembahasan tersebut (dari buku dan blog Zenius) didasarkan pada penelitian ilmiah panjang yang telah lama dipraktekkan di dunia pendidikan barat (dan terlihat bagaimana hasilnya).
Saya sangat senang membaca tulisan di blog Zenius, di satu sisi saya me-review apa yang pernah saya baca dengan lebih efektif (saat ini waktu saya lebih padat), dan di satu sisi semakin menambah pengetahuan dan pemahaman saya terhadap semua hal. Pokoknya asik.
Dari semua tulisan di blog Zenius, tulisan tentang belajar adalah yang paling saya suka, ini salah satunya: Belajar Untuk Nilai Atau ...

Terima Kasih Banyak


Sedikit cerita saja, pas kelas XII MA saya ikut KSM (Kompetisi Sains Madrasah) di bidang Fisika. Hasilnya? Saya mendapatkan medali perak di tingkat nasional. Haha, tidak terlalu buruk, mengingat kondisi saya dan itu adalah lomba fisika pertama yang pernah saya ikuti. Setelah itu saya (dan pemenang yang lain) diundang ke ITB untuk kuliah (menerima kuliah, pelatihan, pengarahan, dll) selama dua minggu.
Saat ini saya sudah kuliah di jurusan yang saya sukai dari dulu, yaitu jurusan fisika. Eits, tapi bukan di ITB, saya nggak daftar ke sana (saya tidak daftar ITB, UI, atau UGM). Di SBMPTN saya memilih Universitas Diponegoro di pilihan pertama dan saya masuk. Kenapa tidak ITB? Ada alasan pribadi saya, dan saya memang lebih memilih jurusannya daripada kuliah di mana. Hmmm… dan kembali lagi ke quote awal, saya akan memaksimalkan kuliah saya di sini.
Fiolla! Di Undip saya bertemu teman baru (satu kos), yang ternyata member aktif Zenius. Di sinilah saya patut bersyukur--dan memang selalu bersyukur, saya diizinkan untuk menggunakan Zenius Xpedia yang dia punya. Saya tidak menggunakan semua, hanya di bagian Learning Guide. Dan itu sudah sangat bermanfaat bagi saya. Di sela-sela waktu kuliah, saya menyimak baik-baik learning guide lengkap yang ada. (Beberapa bagian Learning Guide sudah pernah saya ikuti secara gratis di zenius.net di sini, dan berkat bantuan teman saya ini saya bisa mengikuti Learning Guide secara lengkap)
Hasilnya, learning guide Zenius banyak membantu saya dalam mengambil sikap dengan benar di kegiatan kuliah. Kuliah pun lebih terstruktur, sistematis dan mengasyikkan! Di kuliah, saya pun sering dimintai bantuan teman saya untuk berdiskusi mengenai konsep dari materi yang sedang dipelajari. Asik.

Sebagai bentuk terima kasih saya kepada Zenius, saya selalu berusaha untuk menyebarkan filosofi pendidikan yang benar (sebagaimana Zenius) kepada teman-teman saya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Itulah cerita perjalanan saya…
Padahal saya baru memakai fitur gratisan dari Zenius, tapi saya sudah merasakan bagaimana ia membentuk pola pikir saya, pola pikir ilmiah keren yang membuat saya melihat dunia dengan sudut pandang yang sangat menakjubkan. Nggak kebayang kalau seluruh fasilitas Zenius dimanfaatkan secara maksimal!

***

Hihihi. Sebenarnya saya agak sungkan menulis tulisan cerita seperti ini. Tapi nggak apa-apa deh, kalo dengan cerita perjalanan saya ini saya punya kesempatan dapet buku keren gratis dari Zenius.

Hadiah blog competition www.zenius.net

Selasa, 03 November 2015

UTS Nonsen

“Sebenarnya UTS diadakan untuk apa?”
Sebuah pertanyaan sepele yang kemudian membingungkan untuk dijawab.
Menurut saya pribadi, UTS (Ujian Tengah Semester) atau ujian sejenisnya diadakan dalam rangka mengevaluasi tingkat keberhasilan proses belajar-mengajar dalam periode waktu tertentu. Maka dari itu, idealnya, ketika UTS hendak dilakukan sudah tidak ada lagi proses belajar yang perlu dilakukan agar hasil nyata dari proses belajar-mengajar dapat diketahui dengan benar. Dengan kata lain, saya mengatakan bahwa proses belajar harusnya dilakukan selama waktu pembelajaran jauh sebelum UTS, bukan waktu-waktu menjelang UTS.
Namun kenyataan berkata lain. Kebanyakan orang justru menjadikan waktu pembelajaran untuk bersantai-santai, dan menjelang UTS akan dilaksanakan semua berbondong-bondong membaca buku, meminjam catatan, fotokopi soal, dan belajar (hanya) sehari sebelum UTS dilaksanakan.
Hasilnya apa? Bukannya mengetahui hasil pembelajaran, guru (atau dosen) hanya mendapat corat-coret di lembar jawaban yang menggambarkan seberapa baik seseorang menghafal materi sehari sebelum ujian. Setelah ujian, apa yang terjadi? Lupakan. Tidak ada evaluasi dan tidak ada perbaikan diri.
Apa hasil pembelajaran selama masa belajar-mengajar? Satu dua mungkin membekas (sedikit), tapi sisanya? Tidak ada. Ini yang patut dikhawatirkan, ketika yang terjadi hanya proses studying (itupun tidak maksimal), dan tidak ada sedikitpun learning.
Ayolah... Pikirkan kembali esensinya. Bukannya saya ini sok benar dan sok idealis (terlepas dari fakta bahwa saya memang berusaha idealis), pikirkan kembali esensi dari semua proses ini.



***

Saya sendiri berusaha untuk sebisa mungkin tidak mempelajari materi ujian di waktu-waktu menjelang ujian (kalau sekedar review iya). Ujian merupakan ajang evaluasi, dan saya ingin tahu kualitas keilmuan saya yang sebenarnya, untuk kemudian saya perbaiki dan terus saya tingkatkan.
Sedikit cerita saja, hari ini tadi UTS Kimia Dasar secara mengejutkan soalnya persis sama dengan soal yang di-share teman saya di grup Line sehari sebelumnya, soal dari jurusan lain. Nah, saya memang tidak tertarik untuk memperhatikan soal itu, walau kemudian banyak yang mengirim gambarnya ke saya.
Ketika saya tahu bahwa sekilas soal itu sama, apa saya menyesal? Menyesal karena tidak mengerjakan soal itu terlebih dahulu? Tidak kok, sama sekali tidak. Saya ingin hasil UTS menggambarkan dengan sebenar-benarnya apa yang saya pahami selama proses belajar, bukan menggambarkan seberapa baik saya mengerjakan soal itu di malam sebelumnya. Bagaimana hasilnya? Kalian tahu lah… hehe.

Jumat, 30 Oktober 2015

Berkarya dengan LaTex

Salah satu hal yang paling saya sesali ketika menggunakan Linux sebagai sistem operasi komputer saya adalah ketika saya menyadari bahwa di Linux tidak ada fitur semacam equation (di Microsoft Word) yang biasa saya gunakan untuk menulis persamaan matematik.
Di Linux memang ada WPS Office yang mempunyai tampilan persis seperti Microsoft Office, tapi ternyata ia belum dilengkapi dengan fitur equation tersebut. Di Linux juga ada Libre Office, yang punya fitur semacam equation, tapi font-nya kurang cantik dan cara penggunaannya rumit.
Writer Office



Libre Office

Saat saya sangat butuh untuk menulis persamaan matematik, tapi ternyata Linux belum mendukung dengan baik, saya frustasi. Ingin kembali ke Windows.
Sampai akhirnya saya menemui bahwa Libre Office dapat ditambahi dengan fitur LaTex, yang dapat digunakan untuk membuat persamaan matematik dengan cantik.




Pertama kali menggunakan LaTex, saya cukup kesulitan. Ada banyak hal baru yang membuat saya bingung, karena LaTex menggunakan sistem semacam kode bahasa pemrograman untuk membuat persamaan matematis. Jika di equation Microsoft Office saya hanya perlu menulis 1/2 untuk menulis bentuk pecahan satu per dua, di LaTex Libre Office saya harus menulis \frac{1}{2}. Rumit? Ya iyalah! 
Namun setelah sering menggunakannya, saya pun terbiasa, dan mulai menyukainya. Ada satu hal menarik dari LaTex yang membuat saya betah bersamanya. Apa? Fontnya cantik sekali! Punya nilai seni lebih daripada equation Microsoft Word.
Saya pun telah menulis (sedikit) karya dengan bantuan LaTex ini, seperti yang telah saya unggah di pos sebelum-sebelumnya:
Berkarya dengan LaTex juga memberi saya nilai lebih. Karena tidak (belum) banyak orang yang bisa menggunakan LaTex. Hihihi.

Senin, 21 September 2015

Karena Nama "Foton" Itu Keren Banget

Nama angkatan? Nama untuk Fisika Undip angkatan 2015? Hm.. ya ya, saya akan memikirkannya.
Bagaimana dengan Foton? Bukankah itu keren?

Kepanjangan dari "Foton"

Saya tidak berpikir banyak tentang kepanjangan dari Foton, dan saya memang tidak ingin kalo Foton itu punya kepanjangan... karena hal yang jamak terjadi adalah kepanjangan itu terlalu dipaksakan dan terasa tidak alami..
Toh nama Foton sendiri jika dilihat dari filosofi dan sejarahnya itu keren banget kok.. Nggak percaya? Terusin aja bacanya :)

Ketika Pertama Kali Foton Dipostulatkan, Banyak Ilmuwan Yang Tidak Percaya


Konsep foton merupakan (sifat) partikel dari cahaya, yang pertama kali dipostulatkan oleh Albert Einstein saat ia mencoba menjelaskan secara fisis bagaimana proses fotolistrik dapat terjadi. Konsep lama yang mengatakan bahwa cahaya adalah gelombang tidak dapat menjelaskan terjadinya fotolistrik, dan postulat Einstein yang mengatakan bahwa cahaya dapat berperilaku sebagai partikel (foton) dapat menjelaskan secara gamblang seluruh proses yang ada pada efek fotolistrik.
Namun demikian, walaupun postulat dari Einstein dapat menjelaskan terjadinya proses fotolistrik, banyak ilmuwan yang menolak konsep itu, banyak ilmuwan yang tidak percaya mengenai keberadaan foton. Kenapa? Tentu saja, karena belum ada satu pun bukti eksperimen yang mendukung postulat aneh itu.

Namun Pada Akhirnya, Mau Tidak Mau Para Ilmuwan Harus Menerima Konsep Foton


Adalah Arthur Compton yang telah membuktikan secara eksperimen bahwa cahaya memang dapat berperilaku sebagai partikel. Nah, karena sudah ada bukti kuat melalui eksperimen, para ilmuwan yang awalnya menolak, yang awalnya menganggap kalo postulat foton itu cuma postulat ecek-ecek mau nggak mau harus menerima konsep itu.

Sebagaimana Kisahnya Foton, Mau Nggak Mau Semua Orang Akan Mengakui Kalau Fisika Undip Bukanlah Sebuah Jurusan Yang Ecek-Ecek

Seperti kisah foton yang udah saya ceritain sebelumnya, berdasarkan seluruh bukti keberadaan dan kehebatan Fisika Undip, pada akhirnya semua orang akan mengakui bahwa Fisika Undip bukanlah sebuah jurusan yang ecek-ecek.

Foton Adalah Partikel dengan Kecepatan Paling Besar di Dunia

Kalian tahu kan, kalo Foton mempunyai kecepatan c = 3 x 10^8 m/s? Yap, benar sekali, dan itu adalah kecepatan terbesar yang ada di dunia ini (setidaknya sampai saat ini).
Begitu juga dengan Fisika Undip 2015, yang akan menjadi yang tercepat di antara semua yang lainnya. Menjadi yang tercepat dan yang paling maju. 

Foton Tidak Bergerak dalam Dimensi Waktu


Foton adalah partikel tercepat, yang dapat menempuh jarak yang jauh dalam waktu sekejap. Atau jika dalam sudut pandang foton itu sendiri, ia tidak membutuhkan waktu sedikit pun untuk berpindah tempat, karena foton tidak bergerak dalam dimensi waktu. Foton tidak terikat waktu!
Begitu juga kebersamaan dan kekeluargaan yang ada di dalam tubuh Fisika Undip 2015.. Kekeluargaan yang tidak terikat waktu!


Minggu, 20 September 2015

Pola Pemanggilan Nama


Setelah lebih dari satu bulan tinggal di Semarang, khususnya di wilayah Undip, saya menyadari sebuah pola yang sangat berbeda dari apa yang sebelumnya saya rasakan di Desa saya.
Ini tentang pola dalam pemanggilan nama.
Setahu saya, kalau ada orang dengan nama panggilan "Aris", maka saya memanggilnya (menyapa) dengan berkata "Ris..." Kalau ada orang bernama "Danu", saya akan memanggil "Nu.. Danu"
Nah, selama di Undip ini saya melihat kalau yang terjadi adalah kebalikannya. Jika saya memanggil orang dengan potongan belakang nama panggilannya, di sini orang-orang (mahasiswa--yang anak kota) memanggil dengan potongan depan dari nama.
Maka, orang dengan nama panggilan "Aris" akan disapa "Ar..", dan nama "Danu" akan disapa "Dan.."
Rasanya aneh di telinga saya.

***
Di balik rasa aneh di telinga saya ketika mendengar itu, sebenarnya ada hal yang sangat menarik untuk dikaji. Apa? Ya itu tadi, tentang pola pemanggilan nama. Orang-orang di daerah saya bisa dikategorikan ke dalam orang-orang Desa, dan orang-orang di sini (mahasiswa) bisa dikategorikan dalam kalangan orang kota. Kenapa orang desa memanggil dengan potongan nama belakang, sedangkan orang kota memanggil dengan potongan nama depan?

Sabtu, 29 Agustus 2015

Langkah-langkah Perbaikan Yang Tidak Terdengar


*Essai yang saya buat untuk kegiatan Orientasi Diponegoro Muda 2015

Anda muak dengan keadaan negara ini? Anda nggerundel dengan kualitas negara ini? Anda selalu berkata bahwa negara ini tidak benar, tidak adil, dan sejenisnya?
Aih, hentikan omong kosongmu!
Tak ada manfaatnya terus-terusan menyalahkan dan menjelek-jelekkan negara tercinta ini--walaupun ia memang demikian. Tak ada gunanya membual tentang sikap bejat para pejabat dan anggota dewan--walaupun bualan itu benar. Tak ada gunanya pula Anda ngoceh sok tahu tentang keadaan ekonomi, nilai tukar rupiah, dan sejenisnya.
Karena semua itu tidak ada gunanya.

***
Di dunia ini, dalam konteks menanggapi keadaan, secara garis besar orang-orang terbagi ke dalam dua kelompok. Pertama adalah kelompok yang berkomentar, dan yang kedua adalah kelompok yang memperbaiki. Semua orang mempunyai hak penuh untuk memilih masuk ke kelompok mana. Dan karena kebebasan itu, hampir semua orang memilih masuk ke kelompok yang pertama, yaitu kelompok yang berkomentar. Kenapa? Tentu saja mereka memilih berkomentar, karena berkomentar adalah bagian yang paling mudah.
Presiden mengambil keputusan A, mereka langsung berkomentar, “Wah wah, presiden ini gimana sih? Kok malah menyengsarakan rakyat.” Kemudian mereka menjelek-jelekkan, “Pantes aja, presidennya aja kurus kerempeng nggak punya wibawa kayak gitu kok..”
Nilai tukar rupiah terhadap dollar menurun, dengan sok tahu mereka langsung berkomentar, “Hancur negara ini kalo terus-terusan seperti ini. Ini presidennya gimana sih, ini DPR-nya pada kemana sih? Harusnya DPR mewakili rakyat agar kebijakan ekonomi yang diambil menguatkan rupiah.” Kemudian menjelek-jelekkan, “Ini pasti kerja DPR-nya nggak bener nih, mereka lebih suka korupsi daripada nampung aspirasi rakyat.”
Banyak sekali, bukan, yang menanggapi keadaan dengan sekedar berkomentar? Tentu saja! Atau mungkin Anda juga termasuk di dalamnya?
Nah, kabar baiknya, tidak semua orang memilih untuk sekedar berkomentar dalam menanggapi keadaan, ada orang yang lebih memilih memperbaiki daripada melontarkan komentar-komentar kosong yang tidak ada gunanya.
Tapi, berbanding terbalik dengan jumlah kelompok pertama, jumlah orang yang memilih bagian kedua (memperbaiki keadaan) sangatlah sedikit. Tentu saja sedikit, karena bagian ini adalah bagian yang sangat susah dan berat. Dari 250 juta penduduk Indonesia, paling-paling hanya sekitar satu juta orang yang memilih bagian berat ini.
Padahal, memperbaiki keadaan inilah yang sangat baik dan bermanfaat, baik bagi diri sendiri dan lingkungan (negara). Memperbaiki keadaan ini pula lah yang lebih urgen daripada sekedar berkomentar kosong dan menjelek-jelekkan tanpa ada aksi nyata untuk perbaikan.
Patutlah kita mengagumi dan mencontoh mereka. Siapa? Yaitu mereka yang dalam senyap berusaha untuk memperbaiki keadaan. Tidak banyak berkomentar, dan lebih mengedepankan aksi nyata. Tidak peduli walaupun media tidak menampilkan jasa besar mereka dan lebih memilih menampilkan tayangan yang isinya hanya komentar tidak penting dan menjelek-jelekkan negara.
Anda belum tahu siapa mereka?
Mari kita kunjungi salah satunya. Mari terbang sejenak ke Jakarta, dan lihat sekelompok anak muda yang terkumpul dalam forum Hackaton Merdeka, yang mempergunakan seluruh kemampuan mereka dalam hal coding untuk membuat aplikasi pemecahan masalah harga komoditas pokok di Indonesia (yang salah satu manfaatnya secara tidak langsung adalah mengendalikan nilai tukar rupiah terhadap dolar). Saya tidak paham secara detail apa yang mereka buat, tapi saya paham betul bahwa mereka ini adalah anak muda yang telah memilih tugas mulia untuk memperbaiki keadaan, bukan sekedar berkomentar dan menjelek-jelekkan keadaan. Presiden Joko Widodo menyambut perjuangan mereka dengan sangat baik, dan kemarin tanggal 28 Agustus 2015 anak-anak muda itu dipanggil Presiden Joko Widodo ke Istana Kepresidenan Bogor untuk menerima penyambutan dan penghargaan.
Sekarang kita pindah sejenak ke Semarang, dan lihat sekelompok Ilmuwan yang secara konsisten terus melakukan riset dan pengembangan teknologi untuk memajukan kualitas ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Kita lihat salah satu dari mereka, beliaulah Dr. Ir. Muhammad Nuh, DEA yang baru saja mengembangkan Zeta Green yang merupakan produk riset beliau dalam konteks fisika plasma. Secara garis besar, Zeta Green digunakan untuk merubah kondisi udara yang kotor dan beracun di dalam ruangan menjadi udara bersih. Sehingga alat tersebut dapat melindungi banyak orang dari persebaran penyakit melalui udara. Angkasa Pura menyambut baik inovasi beliau dengan memberi penghargaan, dan alat tersebut sekarang telah benar-benar digunakan di beberapa bandara di Indonesia.
Dan masih ada banyak orang hebat yang telah memilih tugas berat untuk memperbaiki keadaan melalui kemampuan dan karya mereka masing-masing, bukan sekedar komentar kosong tak berguna.
Kita harus meneladani mereka. Namun sayangnya, kita tidak akan bisa meneladani mereka. Kisah mereka dan langkah-langkah perbaikan yang mereka tempuh tidak akan dapat kita dengar. Kenapa? Karena kita semua terlalu bising berkomentar dan menjelek-jelekkan keadaan.