Tampilkan postingan dengan label Fisika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fisika. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juni 2016

Kekhusyu'an Sebagai Fungsi Posisi

Mayoritas kita adalah orang-orang yang susah untuk mencapai kondisi khusyu' (dalam sholat atau lainnya). Ada sedikit gangguan saja, sholat kita sudah langsung ngawang-ngawang nggak jelas arahnya ke mana.
Maka dari itu, kita masih butuh bantuan pernak-pernik tambahan macam kipas angin, badan segar, baju bagus, lingkungan wangi dan sebagainya untuk bisa khusyu' dalam sholat—lha wong kalaupun kondisi-kondisi itu sudah terpenuhi, kita masih tetep sulit khusyu' kok.
Bagi saya yang susah khusyu' ini, faktor bantuan terpenting dalam mencapai kekhusyu'an adalah posisi: posisi saya dalam sholat berjamaah. Makanya, saya bilang kalo kekhusyu'an saya itu bergantung pada fungsi posisi. Kalau ditulis secara matematis jadinya:


Posisi yang bagaimana? Bukan posisi terdepan, bukan juga posisi paling belakang, walau tidak menutup kemungkinan posisi itu adalah solusinya.
Namun lebih dari itu, posisi ini berkaitan erat dengan sirkulasi udara (baik oleh kipas angin atau lainnya). Saya perlu mencari posisi strategis untuk mencapai aliran udara (dari kipas angin atau lainnya) yang paling efektif: tidak terlalu pelan dan tidak terlalu kencang.
Kalau terlalu pelan (atau malah nggak sama sekali) bisa dipastikan saya akan kegerahan, keringetan, badan lengket-lengket, yang akibatnya kekhusyu'an berkurang.
Begitu juga kalau terlalu kencang, selama sholat itu saya kedinginan, nggak fokus, dan pas sholat selesai saya malah masuk angin.
Kalau dibuat grafik kekhyusu'an sebagai fungsi sirkulasi udara jadinya:
Pembahasan mengenai kekhusyu'an sebagai fungsi posisi (yang selanjutnya menjadi fungsi sirkulasi udara) ini sangat krusial pada saat-saat Ramadhan seperti ini, terkhusus pada saat shalat tarawih berjamaah—yang waktunya lebih lama dibanding sholat lainnya.
Awal-awal Ramadhan pas saya masih di Semarang kemarin, saya ikut sholat tarawih berjamaah di Masjid Kyai Galang Sewu yang posisinya ada di samping kos. Dari pengalaman, saya menemukan kalau posisi ideal untuk sholat tarawih di situ adalah baris paling belakang. Alasannya sederhana, adem. Dan untuk mencapai posisi itu, saya harus pura-pura (dan sengaja) menerlambatkan diri untuk ke masjid biar dapet tempat belakang—terlepas dari fakta saya terlambat beneran.
Pernah suatu kali pas itu saya datang cukup awal, dan dapat tempat di tengah-tengah. Awal-awal sholat tarawih sih masih normal. Tapi begitu masuk rakaat ke-5 dan seterusnya, astaghfirullah, gerah banget—kipas angin tak mampu mengatasinya. Secara fisik saya sholat, tapi pikirannya mencari-cari aliran kipas angin. Daripada sholat tarawih ini jadi nggak bener, saya pun keluar dari barisan menuju tempat wudhu, untuk kembali sholat di barisan belakang. Alhamdulillah, adem.
Lain Semarang, lain rumah.
Sekarang, ketika sholat tarawih di desa saya—di masjid, barisan belakang tidak lagi menjadi posisi ideal untuk kenyamanan sholat saya. Di masjid ini, posisi paling nyaman itu ada di shaf ketiga nomor 1 sampai 4 dari kiri. Alasannya sama, adem, karena pada daerah itu kipasnya cukup stabil: tidak terlalu kencang tidak pula terlalu pelan. Karena kondisi yang seperti itu, saya pun agak ngotot untuk mendapatkannya. Kalau shaf depannya masih kosong, saya lebih memilih menghindar dulu—daripada harus mengisinya. Baru kalau keadaan mendukung, saya langsung jenggirat menuju tempat tersebut: shaf ketiga nomor 1 sampai 4 dari kiri.
Tapi..
Walau seluruh kondisi tadi sudah terpenuhi, nyatanya kok saya masih tetap nggak bisa khusyu' ya..
Ternyata memang kekhusyu'an bukan semata-mata dipengaruhi oleh posisi dan kipas angin. Kalau posisi dan kipas angin sudah pas, tapi orang di samping berbau kurang sedap, perut laper, mikirin film, kebelet pipis, imamnya lama, dan sejenisnya ya susah untuk khusyu'.
Contohnya saya ini, posisi sholat dan kipas angin sih udah pas, tapi kok pas sholat malah mikirin posting blog kayak gini…
Astaghfirullahal adzim
   

Sabtu, 25 Juni 2016

Satelit Indonesia dan Komentatornya


Sepertinya bulan Ramadhan kali ini membawa banyak berkah untuk Indonesia. Bagaimana tidak, baru pada Ramadhan kali ini tidak lagi ada acara lawak yang selalu menemani kala sahur dan berbuka, sejalan dengan tidak adanya acara ceramah di pagi, siang dan malam—di tv saya. Ramadhan kali ini tv saya lebih sering mati, sejurus karena saya sudah melek teknologi dan aktif berinternet hampir setahun ini.
Menurut saya, internet menawarkan hiburan yang lebih variatif dibanding tv, ya, walaupun nggak variatif-variatif amat. Toh saat ini internet yang digadang-gadang sebagai wadah citizen journalism masih menunjukkan gelagat kalau ia hanya perpanjangan tangan dari media konvensional yang menyetir arah perbincangan.
Tapi sungguh, saya beruntung karena dengan internet jadi tau kalau di bulan Ramadhan ini ada kabar baik yang sudah saya nanti-nantikan, Indonesia menerbangkan satelit (lagi).
Ada dua satelit Indonesia yang baru saja mengangkasa: BRIsat dan LAPAN A-3.
Tapi eh tapi… dalam dunia modern sekarang, menerbangkan satelit itu udah nggak wah lagi, udah biasa. Lha wong sekarang saja udah perusahaan komersil ruang angkasa macam SpaceX dan Blue Origin yang siap sedia meluncurkan satelit pake roket mereka kok... Kalo duitnya cukup, wush, satelit itu bakal terbang mengangkasa.
Terus apa yang bisa dibanggakan dari penerbangan satelit kali ini? Kalo dari penerbangannya, dengan berat hati sebenarnya belum banyak. BRIsat meluncur numpang roket Ariane 5 di Pelabuhan Angkasa Eropa, sementara LAPAN A-3 meluncur dengan nebeng roket milik India bersama 20 satelit lainnya.
Untungnya urusan satelit itu nggak cuma sesederhana nerban-nerbangin tok. BRIsat misalnya, satelit milik bank yang ada kata Rakyat-nya ini walaupun dibuat oleh Eropa, seenggaknya dia jadi satelit pertama di dunia yang dimiliki oleh institusi keuangan. Keren? Katakanlah begitu.
Terkhusus untuk LAPAN A-3, saya bangga, karena satelit ini dibuat di Bogor. LAPAN A-3 (setelah A-1 dan A-2) ini dibuat atas kerjasama LAPAN dengan IPB. Asal anda tahu ya, buat satelit itu nggak nggak gampang. Nggak perlu saya sebutin teknis-teknis satelit biar kelihatan susah, kan? Oke.
Sekali lagi saya bersyukur karena udah kenal internet, bisa liat peluncuran satelit itu kayak di film-film (belum liat full tapi), walaupun sebenernya saya lebih pengen nonton peluncuran itu di tv. Bagi saya, sensasi nonton tv belum bisa tergantikan oleh nonton video di laptop/hp lewat internet. Tapi kok kayak e nggak ada kabar penyiarannya di tv ya? Apa sebenernya ada tapi saya nggak tau, karena udah jarang nonton tv? Mbuh lah.
Tapi ada satu hal...
Sebagaimana lazimnya internet, selalu tersedia kolom komentar yang membuat sebuah berita menjadi lebih menarik (komentarnya yang menarik), tak terkecuali berita peluncuran satelit ini.
"Loh itu beneran satelit Indonesia, min? Kok tulisan di satelitnya INDIA?" Ada si pembaca judul dan pelihat gambar hebat yang merasa tak perlu membaca isi berita.
"Iya, min, kok tulisannya India?" Ada pula si pembaca komentar, yang tak perlu membaca judul bahkan gambar berita—apalagi isinya.
"Kenapa nggak diterbangin dari Indonesia?" Ada si kritis yang sayangnya malas baca.
"Kapan Indonesia punya roket sendiri?" Ada si kritis yang salah fokus berita.
"Gapapa satelit dulu, itu udah keren. Fokus sama rakyat miskin aja dulu gausah banyak gaya. Toh hutang negara belum selesai juga." Ada pula si bijak yang menengahi perang di kolom komentar.

*** bubar2 

Selasa, 07 Juni 2016

Penyelesaian Persamaan Diferensial


Persamaan diferensial itu njlimet!
Pernyataan tersebut bisa jadi benar, tapi bisa jadi salah. Ke-njlimet-an persamaan diferensial mungkin terjadi karena kita tidak membaca dengan benar apa yang seharusnya dipelajari--melihat sekilas ke susunan abstrak huruf dan angka--untuk kemudian mengatakan: Ah, aku tidak paham.
Padahal, jika diikuti dengan sistematis dan runut, persamaan diferensial dapat dipahami (walaupun tidak mudah).
Ada yang lebih susah daripada memahami teori penyelesaian persamaan diferensial, yaitu menyelesaikan persamaan itu sendiri. Selain penyelesaian yang panjang.... persamaan diferensial seringkali menyuguhkan nilai rumit, itu yang semakin membuat malas untuk mengerjakannya.
Maka dari itu, menurut saya tidak terlalu penting untuk dapat menyelesaikan persamaan diferensial secara manual (apalagi dengan menghafalkan cara-caranya), yang lebih penting adalah memahami dengan benar konsep dasar dalam persamaan diferensial itu sendiri. Karena toh, sekarang sudah ada banyak software yang dapat menyelesaikan persamaan diferensial hanya dalam hitungan detik kok.
Salah satunya yaitu Wolfram Alpha. Nah, saya suka menggunakannya untuk menyelesaikan persamaan diferensial. Juga dalam hal ini PR Matematika Dasar dari Pak Djuwandi tentang persamaan diferensial, dengan bantuan Wolfram Alpha, penyelesaiannya menjadi lebih mudah, karena saya langsung tau hasilnya (dan minimal dikasih tau jenis persamaan diferensialnya--kalau jadi member pro malah dikasih tau step by step-nya). 

Ah sudahlah, ceritanya cukup.

Berikut ini saya lampirkan pembahasan penyelesaian PR Matematika Dasar Pak Djuwandi dari saya, mungkin masih ada banyak kesalahan, tapi semoga bermanfaat.

 

Download pembahasannya di sini.

Minggu, 28 Februari 2016

Merenangi Fisika

Basically, swimming is about using the principle of physics. But, the principle is not simple as Newton law, friction, viscosity, buoyancy, and other. The technical physics principle such as how to move hand and feet is more influence in swimming.
And I think, it is not a simple think although it is interesting. Are you agree? Or maybe just me.


Sabtu, 27 Februari 2016

Widya Puraya, Venus, dan Putaran Elektron


Selama satu semester ini saya telah beberapa kali lari, jalan, atau sekedar duduk di lingkungan taman Widya Puraya (WP) Undip, dan selama itu pula saya merasa normal-normal saja dengan semua keadaan di sana: orang-orang yang jogging, diskusi, foto-foto, dan semuanya.
Baru tadi sore pas di WP, saya kepikiran hal menarik. Saya menyadari kalau ada sesuatu yang aneh dengan arah putaran dari orang-orang yang jogging mengelilingi taman WP Undip. Arahnya searah jarum jam!


Iya, terus kenapa?
Tentu saja itu menarik, karena pada normalnya orang-orang akan lebih mudah (lebih nyaman, lebih natural) berkeliling dengan mengambil arah berlawanan jarum jam. Lihat saja lintasan lari atlit-atlit, lintasan balap mobil, dan sebagainya, yang mengambil arah berlawanan jarum jam. 


Sejauh yang saya tahu, kecenderungan orang untuk berkeliling dengan arah searah/berlawanan jarum jam berkaitan dengan kidal/tidaknya seseorang. Orang tangan kanan (right-handed) cenderung untuk berkeliling dengan arah berlawanan jarum jam, sementara orang tangan kiri/kidal (left-handed) cenderung untuk mengambil arah searah jarum jam. Namun, entah bagaimana bisa, semua orang yang jogging mengelilingi taman WP justru mengambil arah jarum jam (yang artinya kidal). Apakah semua orang yang jogging itu kidal? Tentu saja tidak. Saya yang tidak kidal juga mengelilingi taman WP searah jarum jam kok, dan menurut saya itu tidak lebih karena saya mengikuti arah jogging orang-orang sebelumnya.

Kalau kita tarik lebih jauh, jauh dari taman WP, pembahasan mengenai arah putaran ini sangatlah menarik.

Mari kita lihat Bumi kita. Jika dilihat dari kutub utara (geografis), Bumi berotasi melawan jarum jam. Lalu, angin tornado dan pusaran air juga berputar berlawanan arah jarum jam (belum saya pastikan). Arah putaran thawaf pun juga berlawanan arah jarum jam. Dan di fisika, arah putaran sudut serta aturan tangan kanan arus listrik-medan magnet juga diambil berlawanan arah jarum jam. Apa ini? Apakah alam suka berputar berlawanan arah jarum jam? Mungkin, tapi nggak juga.


Bagaimana dengan arah elektron dalam mengelilingi inti atom? Katanya-katanya sih berlwanan arah jarum jam juga, tapi ayo kita pikir sebentar, karena dalam skala atom pembahasan tentang arah ini menjadi bias. Anggap sebuah elektron mengelilingi inti atom (anggap saja).

Bayangkan anda melihatnya dari atas, dan elektron itu berputar berlawanan jarum jam. Sekarang bayangkan sistem inti atom dan elektron itu anda balik (seperti membalik piring), atau mungkin anda ganti melihat mereka dari bawah, dan taraa.. elektron itu berputar searah jarum jam. Seperti itulah, di dunia atom searah/berlawanan jarum jam adalah bias. Belum lagi model elektron yang mengelilingi inti atom seperti planet mengelilingi matahari adalah model yang keliru.
Kasus lain, apakah anda pernah makan di warung dan memesan minum es teh manis? Anggap saja pernah. Dan jika pernah, pasti anda tahu kalau mas  penjaga warung seakan malas untuk mengaduk gula yang telah ditambahkan ke dalam teh, sehingga anda terpaksa mengaduknya sendiri. Nah, coba perhatikan arah adukan anda. Bagaimana? Saya pikir anda (right-handed) akan mengaduk searah jarum jam. Iya, kan?
Ketika anda telah menyadari arah adukan anda, anda akan sadar kalau pembahasan ini sudah terlalu jauh. Mari kembali ke pembahasan utama kita.

Kenapa arah putaran jogging di taman WP searah jarum jam, sementara normalnya arah putaran orang tangan kanan adalah berlawanan jarum jam. Apa mungkin taman WP ini seperti Venus? Yang putaran arahnya berlawanan dengan planet-planet lainnya dalam mengelilingi matahari? Entahlah.
Kemungkinan terkuat saya, hal itu dikarenakan satu orang yang paling dulu jogging kebetulan mengambil arah searah jarum jam, dan orang-orang yang jogging setelahnya mengikuti arah orang tersebut.
Kalau memang demikian, kasusnya semakin menarik, karena harusnya saya mencoba untuk menjadi orang pertama dan berlari mengelilingi taman WP dengan arah berlawanan jarum jam, dan lihat apakah orang-orang setelah saya mengikuti arah putaran saya.
Kendalanya, saya harus mengumpulkan cukup niat untuk menjadi orang pertama yang lari di sana. Dan kapan itu saya lakukan? Saya belum tahu.

Senin, 15 Februari 2016

Valentine Bersama Watson, Superkomputer dengan Kemampuan Komputasi Kognitif

Hari ini tepat 5 tahun yang lalu, ketika sebagian besar anak muda Amerika tersibukkan dengan merayakan Valentine, sebagian lainnya yang memutuskan untuk tetap di rumah tidak perlu berkecil hati karena mereka mereka telah menjadi saksi sebuah pertandingan bersejarah bagi umat manusia yang sedang berlangsung di acara Joepardy!
Kuis tersebut diikuti oleh tiga kontestan: Brad Rutter, Ken Jenings, dan pendatang baru Watson. Brad dan Ken adalah pemain terbaik kuis tersebut. Brad Rutter adalah peraih jumlah uang terbanyak dalam sejarah kuis tersebut, sementara Ken Jennings adalah orang yang paling banyak memenangkan kuis tersebut. Namun daya tarik utama dari kuis Joepardy! lima tahun yang lalu ini bukan pada mereka berdua, tetapi pada si pendatang baru, Watson, yang kehadirannya ditunggu-tunggu bukan hanya oleh pencinta kuis tersebut, tapi seluruh dunia karena sosoknya yang luar biasa besar. Besarnya mencapai dua ruangan. Watson bukanlah sosok manusia, ia adalah superkomputer yang dirancang khusus oleh IBM untuk mengalahkan para manusia dalam kuis Joepardy! 

Watson (en.wikipedia.com)

Kuis Joepardy merupakan kuis yang sangat populer di Amerika Serikat dan memegang rekor sebagai acara kuis yang paling lama ditayangkan, dan saat ini telah berkembang pula menjadi permainan online di www.joepardy.com. Ketika mayoritas kuis di televisi mengharuskan peserta untuk menjawab pertanyaan, Joepardy sebaliknya, peserta diharuskan mencari pertanyaan yang sesuai dari petunjuk yang diberikan. Di situlah letak daya tarik kuis ini—di samping nominal hadiahnya yang besar. Sebagai contoh, ketika disebutkan kategori “Ibu kota negara”, dan pembawa acara memberikan petunjuk “Ikon kota ini, yang menjulang tinggi ke langit dengan ujung atasnya dilapisi emas dan terletak di pusat kota, dirancang oleh presiden pertamanya. ” Maka peserta harus menjawab, “Apakah itu Jakarta?”
Dari contoh soal di atas, terlihat sekilas bahwa peserta harus menganalisis petunjuk yang diberikan dalam bahasa manusia yang penuh arti tersirat dan retorika, dan kemudian peserta mencari pertanyaan yang sesuai dari pengetahuan tidak terstruktrur dari dalam pengetahuan mereka. Manusia jelas berada di atas angin dalam hal itu dibanding komputer-komputer tradisional.
Kembali ke permainan Joepardy antara Brad, Ken, dan Watson. Watson yang diwakili oleh Avatarnya berada di antara Ken dan Brad, dan pertandingan dimulai! Bagaimana hasil dari permainannya? Watson keluar sebagai pemenang utama dan berhak atas US$ 77.147, lalu di tempat kedua Ken dengan US$ 24.000 dan Brad di urutan ketiga dengan US$ 21.600. Lalu mereka bertiga juga berhak atas hadiah masing-masing US$ 1.000.000, US$ 300.000, dan US$ 200.000. 

Kuis Joepardy (cs.utdallas.edu)

Kemenangan Watson telah membuka era baru komputer. Sebelumnya komputer telah mampu menggantikan manusia dalam pekerjaan yang sifatnya rutin dan komputasi yang dilakukan komputer terbatas pada hal yang sifatnya linier. Lalu Watson datang dengan kemampuan barunya, komputasi kognitif.
Secara umum era komputasi dibagi menjadi tiga. Era pertama adalah era tabulasi, yakni perangkat kalkulator dan mesin tabulasi yang terbuat dari sistem mekanik dan tabung vakum. Kedua adalah era komputasi program, revolusi dari tabung vakum menjadi microprosesor. Ketiga, era komputasi kognitif, yakni komputasi dilakukan dalam jumlah data yang jauh lebih besar, menggunakan kemampuan pengolahan bahasa alami manusia dan analisis kognitif, atau dengan kata lain memiliki cara kerja seperti otak manusia.
Dalam konteks kuis Joepardy, jika komputasi program menganalisis petunjuk menggunakan kata kunci dan mengambil jawaban dari database yang sudah terstruktur (dengan data yang terbatas), maka komputasi kognitif Watson menganalisis data secara utuh dengan mengartikan keseluruhan petunjuk sesuai konteks bahasa dan mampu memahami jawaban dari data yang tidak terstruktur. Watson mempunyai potensi besar untuk dimanfaatkan di berbagai bidang.
Logo Watson (thefuzzyedge.com)

Perkenalan Watson telah berlalu lima tahun, sekarang apa yang terjadi padanya?
Watson terus berkembang dan dimanfaatkan di berbagai bidang. Dengan kemampuannya yang mampu mengolah data yang tidak terstruktur dengan bahasa alami, dimana 80% data yang ada di dunia saat ini adalah data yang tidak terstruktur, Watson dapat menganalisis informasi-informasi dari ribuan dokumen mulai dari artikel, laporan riset, jurnal, status facebook, twit, chat, blog, dan semuanya. Kemudian ia dapat memahami informasi kunci serta pola keterkaitan satu sama lain dari seluruh data yang ada, dan belajar darinya. Ia dapat digunakan di bidang riset untuk menemukan hal-hal baru, di bidang medis untuk menganalisis penyakit dan kemungkinan penyembuhannya, di bidang bisnis dalam pengambilan keputusan dan juga memahami isu-isu hangat yang sedang berkembang di facebook, twitter, forum, dan sebagainya. Dengan kemampuan berfikir kognitif yang begitu besar, Watson sedang berjalan untuk menyamai, bahkan menandingi kemampuan otak manusia.

Untuk lebih jauh memahami Watson, silahkan buka websitenya di http://www.ibm.com/smarterplanet/us/en/ibwatson/ dan video perkenalannya di bawah ini


Minggu, 14 Februari 2016

Penjelasan Cara Kerja Missing Square Puzzle

Salah satu mainan menarik dari bidang matematika adalah Missing Square Puzzle. Mungkin pembaca sekalian masih asing dengan nama itu, walaupun demikian, saya yakin kalau sebagian besar dari Anda pernah melihatnya, yang biasanya dibawakan oleh pesulap dalam melakukan salah satu aksinya. Mainan ini berupa puzle yang tersusun dari beberapa bentuk, yang jika dipisah dan ditata ulang akan muncul sebuah kotak kosong (missing square) sementara ukuran puzle tetap sama.
Berikut ini adalah salah satunya:





 

Photo credit: Impossible Puzzle! Bruspup (Youtube)

Dalam tulisan ini saya akan menjelaskan cara kerja missing square puzzle tersebut, silahkan download pembahasannya di sini.

Kamis, 11 Februari 2016

Prinsip Kerja Anteng


Sebelumnya saya sudah membahas sekilas tentang Anteng, sebuah mainan keseimbangan yang memanfaatkan ilmu fisika, tetapi saya belum membahas mengenai prinsip kerjanya.
Agar tulisan ini dapat dipahami secara menyeluruh, sebaiknya anda membaca tulisan saya sebelumnya: Anteng, Mainan Keseimbangan Ala Fisika.

Adapun untuk pembahasan mengenai prinsip kerja Anteng, bisa anda download di sini.

 

Jumat, 29 Januari 2016

Anteng: Mainan Kesetimbangan ala Fisika

Saya sedang dalam proyek membuat sebuah mainan fisika, yang saya beri nama Anteng (e-nya dibaca seperti pada kata elang). Mayoritas orang pasti mengenal kata Anteng, terutama orang Jawa, karena memang itu adalah sebuah kata dalam bahasa Jawa yang artinya diam, seimbang, tidak berisik, dan sejenisnya.
Mainan ini bukan murni rekaan saya. Sebelumnya saya sudah pernah melihat bentuk sejenis di buku Matematika Sebagai Alat Bantu oleh Pak Yohanes Surya, walaupun saat itu saya belum paham tentang mainan tersebut. 
Pada dasarnya ini saya lakukan untuk mengisi waktu luang di libur akhir semester ini. Saya tertarik untuk memanfaatkan ilmu fisika dalam membuat sebuah mainan. Saya memulai dari sesuatu yang mudah, sesuatu yang mungkin bisa saya selesaikan, sesuatu yang alatnya terjangkau bagi saya. Maka, jatuhlah pilihan saya pada prinsip kesetimbangan benda dan pusat massa.
Sebelumnya saya sudah pernah membuat mainan yang menerapkan pusat massa, namun bentuknya masih asal-asalan. Ini adalah pengembangan dan bentuk yang lebih disempurnakan.


Dalam pengerjaan ini, awalnya saya berpikir jika dibutuhkan setidaknya empat buah beban di sekeliling titik tumpu. Namun setelah dianalisis, dua buah beban saja sudah cukup (satu pun sebenarnya sudah cukup, tapi bentuknya kurang bagus), dan sampailah saya pada desain seperti gambar di atas, yang kemudian saya sadari serupa dengan gambar yang pernah saya lihat di buku Pak Yohanes Surya.
Saya mengerjakan mainan tersebut dengan alat seadanya: sedotan, besi, paku, dan tali rafia.

(Hasil jadinya)

Lalu dicoba, tinggal diletakan di suatu tempat, dan hasilnya:

(Seimbang di atas jari)
(Seimbang di atas antena radio)
Begitu seterusnya, seimbang di manapun ia diletakkan. 
Namun masih ada yang kurang, yaitu wujud mainannya yang masih asal-asalan (memakai alat sekenanya). Masih diperlukan desain yang lebih bagus dan pengerjaan yang lebih rapi.

***

Untuk penjelasan fisis dari mainan ini akan saya tulis di pos lain.

[Update] Penjelasan fisisnya bisa anda baca di Prinsip Kerja Anteng