Tampilkan postingan dengan label Petualangan Wahyono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petualangan Wahyono. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juni 2016

Balada Buka Puasa Bersama

Yono lamat-lamat menatap makanan di depannya. Nasi, sayur kangkung, dan beberapa gorengan pelengkap. Tak sabaran ia ingin segera menyantapnya, sudah seharian ia menahan rasa lapar di perutnya, puasa.
Konsentrasinya tertuju pada gorengan di depan: tahu bakso dan tempe mendowan. Sejak siang ia sudah memikirkannya, lupakan soal ujian semester yang harus dikerjakannya.
“Heh, sabar...” Suryo menepuk pundak Yono.
Yono terhenyak, kaget.
“Raimu iku lho, kayak nggak pernah makan setahun aja. Laper ya?”
“Banget.” Yono menjawab singkat.
Dua menit lagi adzan maghrib. Konsentrasi Suryo mengarah ke tayangan tv di pojokan warteg, sementara Yono kembali mematung menatap tahu bakso dan tempe mendowan di depannya. 

...

Kelanjutannya download di sini.

Selasa, 14 Juni 2016

Rendezvous Ayam Semut Kota Lama


Sebenarnya ini adalah salah satu lanjutan seri Petualangan Wahyono yang dulu rencananya ingin saya lanjutkan. 
"Rendezvous Ayam Semut Kota Lama" adalah cerita yang saya buat dan saya ikutkan ke Lomba Cerpen Kisah-Kisah Kota Lama Semarang sekitar sebulan lalu. Ya... walaupun hasilnya, masih perlu banyak belajar.
Setelah pengiriman itu, cerpennya jadi tak terurus: buat cerpen, baca, kirim, udah--langsung terabaikan. Baru ini tadi, pas saya bersih-bersih kamar, nggak sengaja nemu print out naskah cerpen itu dan saya baca kembali sekilas. Ternyata cukup menarik, terlepas dari fakta bahwa jalan ceritanya yang terlalu dipaksakan dan ancangan yang masih goyah--itu yang secara tidak langsung dikatakan oleh pihak Dewan Juri tentang catatan penjurian lomba cerpen tersebut. "Ada juga yang mencoba menghadirkan kisah futuristik yang mengandaikan Kota Lama puluhan tahun di muka, tapi ancangannya masih goyah." Kata dewan juri. Karena kebanyakan cerpen (sebanyak 505 naskah) yang masuk ke panitia mengambil latar waktu masa sekarang atau flash back ke zaman dahulu, sementara saya menghadirkan latar kisah futuristik, sepertinya kalimat juri itu ditujukan buat saya (hihi).
Seperti yang saya bilang tadi, setelah saya baca-baca lagi ternyata cerpen "Rendezvous Ayam Semut Kota Lama" saya ini cukup menarik (setidaknya bagi saya), maka ini mau saya upload biar anda-anda semua bisa ikut membacanya.
Catatan: ini cerpennya terbilang cukup panjang lho ya.. karena memang syarat lombanya minimal 5000 kata, dan ini saya buatnya nyampe 6000an kata. Kalo cerpennya ditaruh di kertas A4 dengan spasi 1.5, cerpennya nyampe 22 halaman.

Download filenya di sini

Senin, 22 Februari 2016

Semangat Pagi Wahyono

Sekarang pukul tujuh pagi, jalanan di kampus masih sepi.
Wahyono, dengan memakai invisible cloak-nya (sehingga ia tidak terlihat) jalan-jalan mengelilingi kampus, melihat keadaan. Berharap melihat wajah-wajah semangat mahasiswa yang akan menggugah semangatnya.
Sambil menunggu, lamat-lamat ia mendongak memandangi setiap pohon rindang di sekelilingnya. Adem, kata Wahyono dalam hati. Setengah jam fokusnya tetap di pohon-pohon itu.

Sekarang pukul setengah delapan.
Tetap saja masih sepi, belum ada satu mahasiswa pun yang datang ke kampus. Wahyono duduk setelah sejak pagi ia berdiri. Matanya mengernyit, seperti melihat sesuatu. Bukan, itu bukan sosok mahasiswa yang ia tunggu-tunggu. Setelah sejak tadi ia mendongak melihat pohon—sampai kecapekan, ia ganti melihat ke bawah.
“Walah yo, yo… kotor sekali.” Seru Wahyono. Ia mengamati jalanan kampus. Benar saja, pohon-pohon rindang itu memang membuat hati terasa adem, tapi rontokan daunnya yang tersebar (seperti sengaja disebar) membuat lingkungan kampus ini terlihat kotor. Selama beberapa waktu fokusnya ganti tertuju pada dedaunan yang berserakan di jalan kampus.

Pukul delapan.
Wahyono menepuk kepalanya, lalu berdiri. Ia ingat sesuatu, lalu pergi meninggalkan kampus.

Sabtu, 20 Februari 2016

Petualangan Wahyono Berlanjut!

Kabar gembira untuk kita semua!
Setelah mengaduk-aduk sejarah umat manusia di tahun 2100 lewat "Mesin Waktu Wahyono", kini ia kembali hadir. Untuk sementara waktu ia mampir di masa sekarang.

Sayangnya kita, manusia biasa, tidak bisa melihatnya secara langsung. Aih, dia punya invisible cloak yang membuat tubuhnya tembus pandang. Melihatnya sama saja dengan tidak melihatnya. Kalian pernah menonton film Harry Potter? Nah, sebenarnya Harry Potter dan kawan-kawan menyewa jubah ajaib dari Wahyono! Itu invisible cloak milik Wahyono, yang memungkinkan mereka tak terlihat ketika memakainya.

Dan asal kalian tau saja, masa sewa jubah oleh Harry Potter sudah habis, sehingga sekarang jubah itu kembali lagi ke Wahyono--itu pula alasan kenapa film Harry Potter berakhir dua tahun lalu.

Wahyono sudah mampir di masa sekarang, dan karena invisible cloak-nya ia bisa melihat kita, sedangkan kita tidak bisa melihatnya.

Di sini ia melakukan banyak hal, mulai dari yang biasa, lucu, seru sampai yang serius pun ada.
Nantikan kisah-kisahnya (nggak jelas) -nya!


Sabtu, 21 November 2015

Mesin Waktu Wahyono

Ini adalah hari bersejarah bagi umat manusia, karena untuk pertama kalinya spesies manusia akan melakukan perjalanan waktu ke masa lalu setelah keinginan itu terpendam dan tidak pernah terwujud begitu lama. Prestasi luhur tersebut merupakan hasil kerja keras ilmuwan dari Indonesia, yang sejak tahun 2100 tiba-tiba berubah menjadi negara maju dan menguasai segala bidang, berbalik 180 derajat dari kondisi Indonesia tahun 2010-an yang masih setia menjadi negara berkembang (sebutan lain untuk negara tidak maju).

Sekarang Indonesia sudah benar-benar maju, baik dari segi teknologi maupun sumber daya manusianya. Pulau Sumatera, khususnya provinsi Riau, yang konon di zaman dahulu sering terjadi kebakaran hutan sekarang tidak lagi dan sekarang menjadi penghasil sawit terbesar di seluruh dunia. Hal itu terjadi karena pada tahun 2093 presiden ke-25 Indonesia, Badrul, memutuskan untuk secara sengaja membakar semua hutan di Riau. Memilih waktu pembakaran yang tepat, agar asap hasil pembakaran seluruhnya beterbangan ke negara tetangga, Macanpura. Membuat mereka kewalahan dan pada akhirnya asap tersebut merusak kecerdasan mereka. Akibatnya, setelah 3 bulan pembakaran besar itu terjadi warga Macanpura tak ubahnya seorang bayi yang tak tahu apa-apa, membuat prediksi pakar seluruh dunia kalau negara kecil ini akan menguasai dunia menjadi salah total.

Selepas itu Negara Indonesia benar-benar bangkit. Ilmuwan-ilmuwan Indonesia menelurkan karya mereka, sehingga di tahun 2100 banyak terdengar hukum-hukum alam asli Indonesia muncul di jurnal internasional: Hukum Wahyono, Kesetimbangan Kholit, Efek Darari, Persamaan Trisno, Postulat Priyo, Dinamika Dudung, dan masih banyak lagi. Semua itu bermula ketika Wahyono, profesor fisika dari Universitas Diponegoro mengumpulkan semua ilmuwan Indonesia di belakang waduk Undip, untuk diberi pengarahan dan motivasi untuk memajukan ilmu pengetahuan Indonesia. “Sudah lebih dari satu abad kita terpuruk. Dulu kakek-nenek kita sudah berusaha, tapi kondisi yang ada membuat mereka gagal. Maka kali ini kita harus berusaha, dan dengan semua kondisi yang mendukung ini, kita harus berhasil.” Kata Wahyono kepada mereka dengan menggebu-gebu.

Bukti kedigdayaan Indonesia akan dibuktikan hari ini, tepat malam satu Suro tahun 1523 Hijriyah. Setelah lima tahun para ilmuwan mempelajari Postulat Priyo, menyesuaikannya dengan hasil eksperimen fisika sejak 100 tahun lalu, kemudian menggabungkannya dengan Efek Darari, mereka menghasilkan teori lubang buaya (menggantikan teori lubang cacing 100 tahun yang lalu), yang berisi hal teknis lengkap untuk membuat mesin waktu. Setelah hal-hal teoritisnya diselesaikan orang-orang fisika, pembuatan mesin ini diselesaikan orang-orang teknik yang diketuai dua orang: Satriyo, Profesor Teknik Mesin Undip, dan Saipul, mahasiswa baru teknik mesin yang punya kemampuan jauh melebihi kakak tingkatnya yang sok keren dan garang di masa kaderisasi.

Tujuan perjalanan waktu ini adalah tahun 2018. Wahyono, sang profesorlah yang memilih tujuan itu, karena ialah yang memprakarsai proyek itu. Sejak proyek mesin waktu diumumkan oleh pemerintah dan 40% APBN dialokasikan untuk proyek tersebut, Wahyono belum pernah menjelaskan pada publik Indonesia (yang sudah pintar) perihal alasan kenapa ia memilih tahun 2018 sebagai tujuan. Selidik punya selidik, ada yang mengatakan kalau pemilihan tahun itu berhubungan dengan kisah cinta kakak kakeknya Wahyono yang dulu kuliah di Undip, yang sampai akhir hayatnya hidup sendirian karena tidak berani menyatakan cinta. Mungkin, Wahyono datang ke 2018 untuk membantunya mengungkapkan cinta.

*Juara terbaik dalam Writing Contest HMF Undip 2015

(Saya pun tidak tahu, bagaimana mungkin bisa tulisan ini juara)