Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Oktober 2016

Sedikit Pengumuman



Baiklah, anggap saja ini semacam pengumuman.

Sudah tiga bulan ini blog Undip Strip tidak saya urus. Alasannya beragam, tapi yang paling utama, minat saya untuk menulis cerita pribadi berkurang. Saya lebih tertarik untuk menulis hal lain, juga mengerjakan hal lainnya.

Rencananya, saya akan aktif menulis di Medium. Selain karena saya suka tampilan webnya yang terlihat profesional dan komunitas dunia yang besar, saya juga sedang berusaha mengasah kemampuan berbahasa inggris saya (sebenarnya menulis di Medium tidak harus bahasa inggris, tapi memang akan lebih baik kalo nulisnya bahasa Inggris). 

Saya bersama rekan-rekan juga sedang mengembangkan Saintif, walau beberapa hari ini sempat vakum karena belum sempat mengurus, tapi Saintif ini akan saya jadikan proyek jangka panjang. 

Saya juga masih aktif di Penggagas... yang beberapa minggu ini belum sempat update sama sekali (baik blog atau facebooknya) karena tim nya pada banyak kerjaan masing-masing. 

Saya juga punya beberapa kerjaan kecil lainnya, tapi tidak saya jelaskan detilnya di sini.

...dan ternyata, selama saya tinggal dan tidak saya urus, traffic blog ini cukup stabil di kisaran angka 100 pengunjung per hari... kecil sekali sebenarnya, tapi cukup menarik karena ini adalah blog tidak penting, yang dulu ya saya yang buat dan saya yang baca sendiri. 

Pencarian google terbesar yang merujuk ke blog ini yaitu dengan kata kunci tentang "SIA undip". Jadi secara kasar blog ini bisa menjadi indikator seberapa banyak mahasiswa undip yang mengakses SIA (Sistem Informasi Akademik) dari google... Pun setiap kali musim uts atau uas blog ini dapet pengunjung nyasar dari kata kunci SIA Undip itu.

Mungkin cukup sekian pengumuman ini. Terima kasih.

Rabu, 29 Juni 2016

Catatan Sedih Kelulusan SBMPTN


via shutterstock.com
Tidak lulus SBMPTN itu rasanya sedih,
Dan akan lebih sedih lagi jika ternyata teman-teman kamu lulus.
Pengumuman SBMPTN kemarin telah memberi kebahagiaan bagi sebagian siswa di Indonesia, dan memberi kesedihan mendalam bagi kebanyakan siswa lainnya.
Kebetulan kemarin Yono termasuk dalam sebagian siswa yang dibahagiakan oleh pengumuman SBMPTN, ia lulus seleksi. “Keberuntungan itu mungkin tidak pantas saya dapatkan, karena selama persiapan SBMPTN saya lebih banyak bermain-main daripada belajar,” ungkap Yono pada saya.
Menanggapi kebahagiaan yang membuncah itu, Yono berusaha menahan diri, bersikap wajar, dan tidak bocor kemana-mana mengenai kelulusan itu. Karena bagaimanapun juga, ia memahami bahwa di balik kebahagiaannya ada kesedihan dari teman-temannya yang tidak lulus.
Yono mulai memahami hal itu ketika pengumuman SNMPTN lalu. Ketika teman-temannya yang lulus SNMPTN mengungkapkan ekspresi kebahagiaan mereka di dunia maya—secara berlebihan, sedangkan Yono sendiri tidak lulus SNMPTN.
“Rasanya sedih banget, dan berubah menjadi sakit ketika mereka menambah-nambahi: Buat teman-teman yang tidak lulus, jangan putus asa. Tetap ada banyak jalan, dan Allah tahu yang terbaik untuk kita semua. Hati ini semakin mangkel, dan mulut ini pengen misuh,” kata Yono.
Yono benar, walaupun nasehat mereka bagus, namun momennya tidak tepat—dan itu membuat esensi dari nasehat tersebut berubah. Ketika mereka mengungkapkan: Alhamdulillah aku lulus, tinggal ngurus registrasi, ada banyak teman mereka yang dalam hati berbicara: Aduh, piye iki? Aku ora lulus. Kudu miker SBMPTN, sinau neh, mbayar. Aduh yo, yo.. 
Dari situ kemudian Yono belajar untuk menahan diri dan tidak mengungkapkan kebahagiaan kelulusan SBMPTN secara berlebihan—di dunia maya. Dan entah bagaimana bisa, teman-teman Yono yang lulus SBMPTN juga melakukan hal serupa. Mereka tidak mengungkapkan kebahagiaan mereka di dunia maya, mereka tetap bersikap wajar dan tidak berlebihan.
Mungkin mereka juga memahami itu, bahwa bukannya ikut bahagia, teman mereka yang tidak lulus justru akan semakin sedih jika teman yang lulus mengungkapkan kesenangan secara berlebihan.
Maka dari itu, kalau ternyata kamu lulus di SNMPTN atau SBMPTN, atau seleksi lainnya, jangan terlalu over dalam mengungkapkan kesenangan kamu di facebook
Njagani perasaan teman kamu yang tidak lulus,” pesan Yono.

*Adaptasi dari catatan satu tahun lalu

Sabtu, 25 Juni 2016

Satelit Indonesia dan Komentatornya


Sepertinya bulan Ramadhan kali ini membawa banyak berkah untuk Indonesia. Bagaimana tidak, baru pada Ramadhan kali ini tidak lagi ada acara lawak yang selalu menemani kala sahur dan berbuka, sejalan dengan tidak adanya acara ceramah di pagi, siang dan malam—di tv saya. Ramadhan kali ini tv saya lebih sering mati, sejurus karena saya sudah melek teknologi dan aktif berinternet hampir setahun ini.
Menurut saya, internet menawarkan hiburan yang lebih variatif dibanding tv, ya, walaupun nggak variatif-variatif amat. Toh saat ini internet yang digadang-gadang sebagai wadah citizen journalism masih menunjukkan gelagat kalau ia hanya perpanjangan tangan dari media konvensional yang menyetir arah perbincangan.
Tapi sungguh, saya beruntung karena dengan internet jadi tau kalau di bulan Ramadhan ini ada kabar baik yang sudah saya nanti-nantikan, Indonesia menerbangkan satelit (lagi).
Ada dua satelit Indonesia yang baru saja mengangkasa: BRIsat dan LAPAN A-3.
Tapi eh tapi… dalam dunia modern sekarang, menerbangkan satelit itu udah nggak wah lagi, udah biasa. Lha wong sekarang saja udah perusahaan komersil ruang angkasa macam SpaceX dan Blue Origin yang siap sedia meluncurkan satelit pake roket mereka kok... Kalo duitnya cukup, wush, satelit itu bakal terbang mengangkasa.
Terus apa yang bisa dibanggakan dari penerbangan satelit kali ini? Kalo dari penerbangannya, dengan berat hati sebenarnya belum banyak. BRIsat meluncur numpang roket Ariane 5 di Pelabuhan Angkasa Eropa, sementara LAPAN A-3 meluncur dengan nebeng roket milik India bersama 20 satelit lainnya.
Untungnya urusan satelit itu nggak cuma sesederhana nerban-nerbangin tok. BRIsat misalnya, satelit milik bank yang ada kata Rakyat-nya ini walaupun dibuat oleh Eropa, seenggaknya dia jadi satelit pertama di dunia yang dimiliki oleh institusi keuangan. Keren? Katakanlah begitu.
Terkhusus untuk LAPAN A-3, saya bangga, karena satelit ini dibuat di Bogor. LAPAN A-3 (setelah A-1 dan A-2) ini dibuat atas kerjasama LAPAN dengan IPB. Asal anda tahu ya, buat satelit itu nggak nggak gampang. Nggak perlu saya sebutin teknis-teknis satelit biar kelihatan susah, kan? Oke.
Sekali lagi saya bersyukur karena udah kenal internet, bisa liat peluncuran satelit itu kayak di film-film (belum liat full tapi), walaupun sebenernya saya lebih pengen nonton peluncuran itu di tv. Bagi saya, sensasi nonton tv belum bisa tergantikan oleh nonton video di laptop/hp lewat internet. Tapi kok kayak e nggak ada kabar penyiarannya di tv ya? Apa sebenernya ada tapi saya nggak tau, karena udah jarang nonton tv? Mbuh lah.
Tapi ada satu hal...
Sebagaimana lazimnya internet, selalu tersedia kolom komentar yang membuat sebuah berita menjadi lebih menarik (komentarnya yang menarik), tak terkecuali berita peluncuran satelit ini.
"Loh itu beneran satelit Indonesia, min? Kok tulisan di satelitnya INDIA?" Ada si pembaca judul dan pelihat gambar hebat yang merasa tak perlu membaca isi berita.
"Iya, min, kok tulisannya India?" Ada pula si pembaca komentar, yang tak perlu membaca judul bahkan gambar berita—apalagi isinya.
"Kenapa nggak diterbangin dari Indonesia?" Ada si kritis yang sayangnya malas baca.
"Kapan Indonesia punya roket sendiri?" Ada si kritis yang salah fokus berita.
"Gapapa satelit dulu, itu udah keren. Fokus sama rakyat miskin aja dulu gausah banyak gaya. Toh hutang negara belum selesai juga." Ada pula si bijak yang menengahi perang di kolom komentar.

*** bubar2 

Jumat, 24 Juni 2016

Membersihkan Buku Tak Terpakai dan Rasa "Eman" Bersamanya

Hari ini saya (dan Pae) membersihkan buku-buku tak terpakai yang telah begitu banyak memenuhi lemari dan ruang kamar tidur. Buku-buku itu adalah akumulasi sejak zaman bapak, mbak, mas, dan akhirnya saya—bisa dibayangkan betapa banyaknya. Sebenarnya tidak semua adalah buku, ada juga kertas-kertas dokumen, fotocopy soal, dan sejenisnya—apapun itu, ia sudah tak terpakai.
Ada setitik rasa eman saat hendak membersihkan buku-buku itu, suatu saat akan berguna, pikir saya. Tapi mosok yo, kanggo? Pikir sisi lain saya.
Dari sekian banyak buku yang ada, dominasi utamanya adalah buku pelajaran, mulai dari SD sampai tingkat SMA. Untuk buku jenis ini, ia memang tak banyak berguna, apalagi kan sekarang kurikulumnya sudah ganti, otomatis buku acuan(pelajaran)nya pun baru lagi—membuat buku-buku ini tidak memiliki banyak nilai praktis. Namun tidak semua buku pelajaran ini saya bersihkan, ada beberapa buku yang sengaja saya simpan karena saya mengenal betul buku itu dan mengetahui manfaat praktisnya (bagi saya), terutama jenis buku pelajaran sains yang banyak membantu saya (artinya, buku itu memang benar-benar bagus dari segi penjabaran dan sejenisnya).
Selain buku pelajaran, ada juga buku tulis. Sama seperti buku pelajaran, buku tulis ini juga akumulasi sejak zamannya mbak, mas, sampai punya saya, dan lagi-lagi ada setitik rasa eman ketika hendak membersihkan buku-buku tulis ini. Ini kan bisa jadi kenang-kenangan, pikir saya.
Namun memang, kayaknya buku-buku tulis ini kok tidak banyak punya nilai praktis kecuali untuk sekedar kenangan (ah apalah itu), dan kayaknya juga nggak ada tanda-tanda kalau buku itu akan saya buka lagi suatu saat nanti. Jadinya buku tulis ini saya bersihkan, kecuali beberapa. Beberapa yang tidak saya bersihkan, sama seperti buku pelajaran tadi, karena beberapa buku tulis (terutama buku tulis pas MA) ada yang saya khususkan dari yang lain: ia tak sekedar buku catatan pelajaran, tapi lebih dari itu ia adalah catatan keseharian dan nilai-nilai (value).
Selanjutnya ada juga banyak jenis buku kitab kuning (buku berbahasa arab, biasanya kertasnya kuning, mayoritas isinya tentang keagamaan, digunakan sebagai acuan pembelajaran di pesantren). Untuk buku jenis ini, kami tak merasa perlu untuk membersihkannya—justru menyimpannya. Kenapa? Nah ini yang aneh, jan-jan e kitab kuning itu yo sama saja kayak buku lainnya kok, cuman ia berbahasa arab (itu aja).
Kalau buku pelajaran kan gonta-ganti sesuai kurikulum, kalau kitab kuning itu nggak, salah satu penjelasan kenapa kitab kuning tidak kami bersihkan. Selain itu, kitab kuning itu punya sentuhan dan kesan unik yang membuat kami merasa perlu menyimpannya—walaupun tidak dibaca (mungkin dibaca suatu saat nanti). Kalau buku-buku pelajaran, normalnya seiring bergantinya tahun buku-buku baru yang sejenis akan muncul dan kualitasnya semakin bagus (akses pembeliannya pun mudah), sedangkan kalau kitab kuning—terutama ini jenis kitabnya kan membahas hal-hal dasar—jadinya tidak ada perubahan (kecuali sekedar perbaikan cetakan dan sejenisnya). Toh jumlah kitab kuning ini tidak banyak kok, itu yang menjadi alasan paling masuk akal untuk menyimpannya.

***

Kenapa merasa eman saat hendak membersihkan buku-buku itu (lalu mengelompokkan dan mengikatnya, untuk kemudian dijual)?
Hal yang paling utama adalah saya merasa butuh. Tapi rasa butuh itu hanya sekedar rasa-rasaan aja, bukan butuh beneran. Karena, kalau memang saya butuh beneran, seharusnya saya berinteraksi dengan buku-buku itu (rutin atau setidaknya beberapa kali). Kenyataannya, dari seluruh buku yang hendak dibersihkan, saya tidak pernah berinteraksi lagi pada kira-kira 95% buku itu. Baru ingin berinteraksi ketika buku-buku hendak hilang, lha kan lucu. Itu artinya saya nggak bener-bener butuh.
Hal itu serupa dengan hal yang sering dilakukan oleh para peminjam buku (yang sayangnya malas membacanya—termasuk saya). Ketika seseorang hendak meminjam buku, entah ke teman atau perpustakaan, ia dalam keadaan tertarik, yang kemudian diartikan sebagai rasa butuh-nya kepada buku itu (lalu meminjam). Nah, ke-butuh-an terhadap buku itu dapat dicek benar atau semunya dari interaksi terhadap buku itu setelah dipinjam: buku itu dibaca atau tidak? Karena banyak dari proses peminjaman buku hanya terdiri dari pergi dan kembali (untung masih bisa kembali).
Saya salah satunya, yang pernah beberapa kali meminjam buku (karena merasa butuh), tapi kemudian tidak membacanya. Buku itu hanya saya baca sebentar setelah peminjaman, lalu berhari-hari buku itu terbengkalai begitu saja. Beberapa kali ingin membacanya, tapi kok yo ora kesampaian. Baru ketika batas waktu peminjaman hampir habis—atau bahkan lewat waktunya, saya gelagapan ingin membacanya lagi. Yang demikian itu saya namakan kebutuhan semu.
Dan ternyata yang saya rasakan terhadap buku-buku ini, yang barusan saya bersihkan, adalah kebutuhan semu. Ah sudahlah.
Ini gambar yang saya ambil setelah buku-buku itu selesai dibersihkan:


Tinggal menunggu tukang rosok (pengepul barang rongsokan) untuk mengambil dan menukarnya dengan uang ribuan setiap kilogramnya. Ini bukan tentang menjual buku-buku itu, tapi terima kasih karena tukang rosok mau mengambil (otomatis membersihkan ruang saya) dan mungkin mendaurnya menjadi hal yang bermanfaat lainnya—daripada tidak saya apa-apakan.

Sabtu, 28 Mei 2016

Majalah Bagus

Pulang dari Jakarta kemarin saya naik kereta Sembrani.
Tak banyak beda dengan kereta-kereta yang sebelumnya pernah saya naiki, kecuali satu hal: majalah. Di depan kursi masing-masing penumpang ada sebuah majalah berjudul Rel: On Train Magazine
Secara penampilan luar, majalah ini terbilang sudah lecek:

Karena gambar pembuka yang cukup menarik, saya lalu melanjutkan membaca (melihat-lihat) isi majalah tersebut:



Isinya sangat menarik.
Terlebih lagi gaya topografi dan fotografi yang begitu profesional (menurut saya).
Melihat majalah itu, rasa-rasanya kok saya pengen buat majalah serupa (kualitasnya) tentang dunia fisika sederhana... Hmm...

Jumat, 27 Mei 2016

Empat Batu Loncatan


Dalam bulan Mei 2016 ini, setidaknya saya mendapatkan empat batu loncatan--biasanya orang-orang menyebutnya sebagai kegagalan.

 

Pertama, Esai Excellent 


Ajang Excellent (Extraordinary Psychology National Moslem Competition) ini diadakan oleh Jurusan Psikologi Undip. Esai yang dilombakan dalam ajang ini bertema "Ramadhan for Positive Soul", dan saya mengirim sebuah esai dengan judul yang sangat panjang: Puasa Ramadhan, Medan Latihan Membentuk Jiwa Positif Untuk Melawan Pragmatisme Dunia.
Dalam ingatan saya, kira-kira saya membuatnya dalam rentang waktu satu bulan. Tentu saja bukan satu bulan full saya nulis esai 6 halaman itu, tetapi satu bulan itu merupakan rentang part-time saya dalam penulisan awal, stuck, pencarian ide, revisi, males-malesan, revisi, sampai saya mengirim naskah esai tersebut.
Setelah pengumuman juara, esai saya tidak termasuk di dalamnya--saya dapat batu loncatan.

Kedua, Esai Festival Sastra UGM


Kompetisi esai ini bertemakan "Budaya, Sastra, Bahasa". Lomba esai ini saya ikuti karena satu hal: pesertanya sedikit--saya mengetahuinya dari teman saya yang sebulan sebelum deadline esai memperlihatkan jumlah peserta lomba. Esai baru diikuti 3 orang. Kesempatan bagus, pikir saya.
Kendati demikian, selang waktu sebulan itu tidak sedikitpun saya gunakan untuk membuat esai. Baru sehari sebelum deadline, saya membuatnya--pantas saja kalah. Esai yang saya buat berjudul "Bias Budaya Bahasa Sastra di Seloroh Zaman Gadget".
Setelah melihat juara kompetisi esai tersebut, ternyata semuanya bukan peserta yang dulu pernah saya lihat (pas masih 3 orang). Itu artinya, sebulan sebelum deadline itu memang belum banyak yang mengirim naskah, baru setelah mendekati deadline banyak peserta yang mengirim naskah esai.
Setelah pengumuman juara, esai saya tidak termasuk di dalamnya--saya dapat batu loncatan lagi.

Ketiga, Cerpen "Kisah-Kisah Kota Lama Semarang"


Kompetisi cerpen ini diselenggarakan oleh Forum Wartawan Balai Kota (Forwakot) Semarang, Hyteria, dan Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L). Sebagaimana judul kompetisinya, kompetisi cerpen ini mengharuskan peserta membuat tema dan latar ceritanya tentang Kawasan Kota Lama Semarang.
Dalam pembuatan cerpen ini, saya membutuhkan waktu selama hampir 2 bulan--tentunya dengan rincian seperti pada pembuatan esai Excellent awal tadi. Khusus untuk cerpen ini, saya juga melakukan survei lokasi ke Kota Lama, agar cerpen saya bisa semakin hidup.
Setelah melewati beberapa proses revisi, akhirnya saya mengirimkan naskah cerpen saya yang berjudul "Rendezvous Ayam Semut Kota Lama" mendekati deadline pengumpulan naskah.
Setelah pengumuman juara, cerpen saya lagi-lagi tidak termasuk di dalamnya--saya dapat batu loncatan yang ketiga. Tentunya bukan hal yang aneh kalau saya kalah dalam ajang cerpen ini, karena dalam tahap akhir pengumpulan naskah, terdapat sebanyak 505 naskah cerpen yang masuk ke panitia, dan banyak di antara 505 cerpen itu yang ditulis oleh cerpenis profesional.

Keempat, ONMIPA-PT Bidang Fisika


Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ONMIPA-PT) merupakan sebuah ajang olimpiade seluruh mahasiswa di Indonesia dalam hal kemampuan teoritis dalam bidang ilmu MIPA.
Kebetulan saya lolos seleksi tingkat Universitas, lalu seleksi wilayah Kopertis 6 (yang ini saya benar-benar nggak nyangka--saya tidak bisa mengerjakan soal tapi malah lolos seleksi). Selanjutnya saya mewakili Kopertis 6 untuk maju di ONMIPA nasional dalam bidang Fisika.
Selama selang pengumuman lolos nasional dan waktu perlombaan saya tidak banyak persiapan--lebih banyak malas-malasan.
So, pantas saja kalau pada akhirnya saya tidak bisa mendapatkan juara dalam ajang ini.
Ketika hendak pengumuman juara ONMIPA, saya sudah memikirkan skenario paling bejo (beruntung) untuk saya. Saya hitung jumlah peserta bidang Fisika dari ITB, UI dan UGM, ternyata total delegasi dari ketiga univ tersebut ada 19 orang. Sementara itu, kebetulan jumlah juaranya ada 20. Kesimpulannya, masih ada kemungkinan kalau saya bisa dapet juara ke 20 (dari 64 orang) hehe..
Tapi... ternyata eh ternyata. Ketika disebutkan juara dari urutan ke 20 sampai 16 (honorable mention) nama saya tidak ada. Ditambah lagi disebutkan pula salah satu juara dari univ selain ITB-UI-UGM, ya sudah berarti saya tidak bisa dapat juara dalam ajang ini--kesimpulan saya sebelum pengumuman juara berakhir, yang ternyata benar. Itulah batu lompatan keempat saya.

>>>

Keempat batu tersebut membutikan kalau kemampuan saya ternyata masih jauh dari standar--padahal saya mengiranya sudah baik. So, baiklah, ternyata masih banyak yang harus diperbaiki, dan sekarang saatnya melompat lebih tinggi dengan empat batu loncatan itu.

Minggu, 28 Februari 2016

Merenangi Fisika

Basically, swimming is about using the principle of physics. But, the principle is not simple as Newton law, friction, viscosity, buoyancy, and other. The technical physics principle such as how to move hand and feet is more influence in swimming.
And I think, it is not a simple think although it is interesting. Are you agree? Or maybe just me.


Minggu, 14 Februari 2016

Simple Thought About GPA

GPA (Grade Point Average) is the value given as academic achievement to the student. There is much of pro and con about how GPA can actually calculate the academic quality of student, one side say that GPA is anything and other side say that GPA is nothing. In this short article, I will describe my opinion about GPA.

 

Basicly, the exam held to test the output of studying and learning process



Why the exam held? Because it will test the output of studying process during a periodical time, that's the real aim. But we must think critically, is can we test the output of studying process with exam? Because most of student don't study enough seriously during studying process and only take short study a day before exam, the real aim of exam can't be reach. And then they will forgot about what they study after exam held, the real aim really can't be reach.
So, because of that, the value of exam (that will convert to GPA) don't calculate precisely the academic quality of student.
And then we also must take an aproachment, if the student never study anything during exam, altought he take a short “extreme” study a day before exam, his exam value is impossible to be best. Yes, that's the point! The exam value don't calculate precisely the academic quality of student that they get during study process, but exam value can be a big representation of their quality, because the student that seriously study suring the process is have more opportunity to get high value (GPA), vice versa.

 

Life is not about your GPA, but you also can't neglect it 

 


As I say in the paragraph before, the GPA can be a big representation from output during proces of formal study. The higher value mean that the student have more industriousness on formal study.
But you can't neglect a fact that the real life is not just formal study, life need real process of studying and learning, learn from other people, nature, and anything. So, because of that, altought GPA can be a big representarion of formal study output, it can't be a big representation of real quality overall. There is a pattern, that some of people more attracted to learn in formal study and the other more attracted to learn in nonformal study.
We must keep being netral, altought some people more attracted to learn in nonformal study, the formal study can't be neglected. As it name, formal study, give a formal quality that can't be neglected. A man who say that the value of formal study (you can say it GPA) is nothing more just a useless number maybe wrong, because if right he is more attracted to seriously study in nonformal study he will understand the value of his formal study give a representation of a part of his life. And nothing wrong with formal study while the process passed with true, because it will increase quality of him.

That is the two big part of my opinion about GPA. The conclusion is GPA give a big representation of formal study output, but it can't be a big representation of human human overall. There is people who attracted to learn in formal study, and other in nonformal study, the right preception is that one of them don't neglect the other. So, the formal and nonformal must walk together, and one of them must be better appropriate the interest. GPA is something, not anything: you can't revere it, and also can't neglect it.
By the way, I will tell about my GPA in my first semester in university. It is 4.0, people say that it is perfect, but I think no. This GPA, in my opinion, not give real representaion of my formal study (as I say before), because of several thing: the question of exam is same with exam of year before, the quality of question is not represent all of studying process, the value given haphazardly, etc. If that several thing can be done, I think that mine is not perfect again. And then, much of ability that I can't do altought my grade is perfect, like several proces and technique of physics & chemistry experiment, I just can do in theory whereas experiment is more important ability. Beside of them, much of nonformal ability that I don't have yet, like sosialisation skill, comunication skill, public speaking, self control, and other.
As a close statement, I will say that my GPA is not represent all quality of my formal study, and it is not mean anything about my nonformal ability. So, I want to keep studying, learning, and improve my skill.

*Note (maybe needed): GPA in Indonesia is IPK (Indeks Prestasi Kumulatif)

Selasa, 19 Januari 2016

Tips Untuk Mengakses SIA UNDIP

Sudah menjadi hal yang lumrah diketahui, jika web Sistem Informasi Akademik (SIA) Undip (atau web apapun) sering mengalami down-server ketika mayoritas mahasiswa mulai mengaksesnya. Tak terkecuali untuk saat ini, ketika mahasiswa mulai melihat hasil studi selama satu semester dan melakukan pengisian KRS (Kartu Rencana Studi) untuk semester berikutya. Lebih dramatis lagi, baru-baru ini di web sia undip terdapat tulisan "Maaf hanya dapat diakses dari jaringan komputer di lingkungan Universitas Diponegoro". Bagaimana ini?

Untuk mengatasi kesulitan masuk SIA ini, saya menemukan beberapa cara bagus.

Cara Pertama, Gunakan Jaringan Wifi di Kampus

 


Hal ini yang saya lakukan ketika saya hendak mendownload kartu untuk UAS kemarin. Dari wifi kos, saya tidak bisa masuk sia. Saya coba berulang-ulang, siang-malam, tetap tidak bisa. Lalu besoknya saya ke kampus, menggunakan wifi di kampus (perpustakaan fsm), memasukkan url www.sia.undip.ac.id.
Taraaaa! Seakan tidak ada gangguan apapun, halaman sia terbuka begitu saja.
Untuk anda yang kesulitan masuk SIA, sedangkan anda berada di lingkungan Tembalang, saran saya gunakan jaringan wifi kampus. Dijamin SIA dapat dibuka dengan lancar.
Namun demikian, kemarin ada laporan dari teman saya yang tetap tidak bisa mengakses SIA walaupun telah menggunakan wifi kampus. Saya belum mengecek ini lebih jauh, tetapi jika hal ini memang benar, mungkin anda bisa menggunakan cara kedua. 

Cara Kedua, Gunakan Web Proxy Anonymouse FSM Undip

 


Anonymouse? Apakah ini kelompok hacktivis (aktivis melalui hacking) dunia yang terkenal itu? Yang baru-baru ini semakin terkenal melalui aksi hack sosial mereka?
Bukan kok.
Alih-alih tentang kelompok hacker, Anonymouse FSM adalah sebuah web proxy yang memfasilitasi mahasiswa UNDIP, FSM khususnya, untuk dapat mengakses SIA dari jaringan internet di luar kampus. Sehingga nanti aktivitas internet pengguna dapat dikenali sebagai aktivitas internet menggunakan jaringan internet kampus. 
Kalau internetnya sudah dikenali sebagai jaringan internet kampus, hal yang terjadi adalah seperti cara pertama di atas, SIA dapat dibuka dengan lancar.
Untuk menggunakan web proxy anonymouse FSM ini, silahkan masukkan url http://www.anonymouse.fsm.undip.ac.id 

Saat pertama kali menggunakan anonymouse FSM, saya dapat membuka dengan sangat mudah tanpa gangguan apapun. Namun, 2 hari setelahnya (kalau tidak salah), ketika saya membuka anonymouse FSM, dibutuhkan username dan password untuk dapat mengaksesnya. (Harusnya memang demikian, memasukkan identitias untuk membukanya)
Saya mulai mencoba-coba, username saya isi nama saya dan password-nya NIM (Nomor Induk Mahasiswa) saya. Ternyata gagal. Saya balik, username-nya NIM saya dan password-nya nama saya, masih gagal. Saya tidak bisa lagi mengakses anonymouse FSM.

Beberapa waktu lalu teman saya ada yang bilang kalau ia dapat masuk ke anonymouse FSM dengan mengisi username dengan NIM, dan password dengan tanggal lahir. Saya mencobanya, tetapi tetap gagal, dan saya tidak bisa membuka SIA.

Sampai akhirnya saya menemukan cara ketiga, cara paling mutakhir untuk membuka SIA.

Cara Ketiga, Anonymouse FSM dengan Sedikit Sentuhan Tambahan



Cara ketiga ini saya temukan sendiri dengan tidak sengaja, dengan mempelajari pola keberuntungan yang saya alami. Cara ini tetap memanfaatkan web proxy anonymouse FSM, tetapi dengan sedikit sentuhan tambahan.
Kalau di cara kedua, web url anonymouse FSM yang kita masukkan adalah http://www.anonymouse.fsm.undip.ac.id, di cara ketiga ini bukan. Ada sedikit tambahan, menjadi  http://www.anonymouse.fsm.undip.ac.id/index.php.
Dengan memasukkan tambahan index.php, kolom username dan password tetap muncul, akan tetapi dengan menekan tombol cancel kolom itu hilang dan kita dapat masuk ke anonymouse FSM! Begitu seterusnya, setiap kali muncul kolom username dan password, klik tombol cancel.
Saya tidak tahu kenapa tambahan index.php dapat membuat hal tersebut dapat terjadi, tapi kenyataannya demikian. Setelah memasuki anonymouse FSM, kita dapat masuk ke SIA dengan mudah. Melihat nilai hasil studi selama satu semester dan melakukan pengisian KRS (Kartu Rencana Studi) untuk semeseter berikutnya.


Cara Keempat, Akses SIA Jauh-jauh Hari 


Ini adalah tips terakhir yang paling mduah dan efektif dari keseluruhan cara di atas. Yaitu, akses SIA jauh-jauh hari, jangan mengaksesnya ketika akhir-akhir waktu, karena bisa dipastikan yang mengakses banyak dan server akan down. Server down bukanlah kesalahan yang fatal (walaupun seharusnya dapat diupayakan untuk diperbaiki), karena pada kenyataannya banyak web yang server-nya down ketika banyak orang yang mengaksesnya. Misal seperti web SNMPTN, SBMPTN, Ujian Mandiri, dan lain sebagainya, itu saya saya alami satu tahun lalu ketika membantu teman-teman saya mendaftar di SBMPTN atau UM, seringkali di akhir-akhir waktu pendaftaran web tidak bisa diakses, karena server-nya down.

***

Demikian keempat cara untuk mengakses SIA Undip ketika anda mengalami kesulitan untuk mengaksesnya, padahal anda sedang sangat butuh.
Semoga bermanfaat.

Kamis, 07 Januari 2016

Cerita Dari Member Gratisan Zenius

lucaforni.com

“It doesn't matter how much resources you have. 

If you don't know how to use them, it will never be enough.” 

---Kata meme di internet. 


Saya pikir quote tersebut sangat benar adanya, bukan tentang seberapa banyak fasilitas yang kita punya, tapi bagaimana kita memanfaatkan fasilitas itu semaksimal mungkin. Konteks kalimat tersebut sangat luas dan mencakup banyak hal, tak terkecuali dalam hal ini pengalaman saya berpetualang bersama Zenius
Apa itu Zenius?
Itu loh.. lembaga pendidikan online anti-mainstream yang pembelajarannya melalui video tulisan tangan dan suara tentor. Lebih jelasnya cari aja di google.
www.zenius.net

Awal Pertemuan


Waktu awal pertama kali saya bertemu Zenius itu saya lupa. Entah kelas XI atau XII MA, saya lupa. Yang tidak saya lupa itu bagaimana saya bertemu dengannnya. Dengan arahan google, saya diarahkan ke alamat web zenius di www.zenius.net.
Kalo boleh jujur, sebenarnya pas saya tahu zenius saya mikirnya pasti ini cuma bimbel yang ngajarin pake rumus cepet, sebagaimana stereotip bimbel yang ada di pikiran saya. Tapi tunggu dulu, kita lihat lebih jauh.
Pertama kali melihat web itu saya mengamati tampilan webnya dan berkata dalam hati, “Ooh.. boleh lah.” Kemudian membaca-baca deskripsi produknya, dan saya berkata “Pembelajaran berbasis konsep ya? Semoga aja bener-bener dilakuin, karena banyak bimbel yang ngaku mengajarkan konsep tapi ujung-ujungnya cuma nyodorin rumus.

Maka saya membuka salah satu videonya, saya lupa itu video kategori apa, tapi saya ingat sekali apa yang saya dapatkan dari situ.

“Bakteri membelah diri menjadi dua setiap 1 menit. Berapa waktu yang dibutuhkan sampai jumlah bakteri ada 16?” 

Yap, jawabannya 4 menit. Tentornya mengajarkan dengan logika, saya juga. Di situ masih biasa-biasa saja, hingga akhirnya sampai di bagian ini:
 
“Bakteri tersebut mengisi penuh sebuah gelas. Berapa waktu yang dibutuhkan bakteri-bakteri tersebut agar jumlahnya dapat mengisi penuh dua buah gelas berukuran sama?” 

Videonya saya pause, saya mulai mikir. Mikir jauh tentang ukuran gelas, jumlah bakteri yang ada di gelas, dan lain-lain, pokoknya lama dan akhirnya saya nyerah.
Jawabannya satu menit! Tentornya menjelaskan, dan saya nepuk kepala, “Oiya!” Bermula dari situlah saya mulai percaya dengan Zenius, bahwa Zenius bukan sekedar lembaga bimbel yang menyodorkan rumus cepat. Lalu saya menikmati beberapa video gratis zenius yang lain.
Apakah saya tertarik menjadi premium member agar bisa mengakses seluruh video Zenius?
Haha, kebetulan tidak. Di satu sisi memang kepingin, tapi lebih banyak sisi yang bilang tidak. Saya belum terbiasa untuk membayar sesuatu yang ada di internet, dan tidak rela mengeluarkan uang untuk itu (ada banyak yang lebih penting, pikir saya). Kalaupun saya menjadi premium member, apa saya mau tiap hari pergi ke warnet untuk mengakses video itu? Kan lucu kalau begitu. Udah gitu saya akan makin banyak mengeluarkan uang (yang kebetulan tidak banyak) untuk ke warnet.
Lalu saya kembali ke quote meme yang saya tulis di awal tadi, nggak apa-apa saya tidak bisa mengakses seluruh video Zenius, saya akan memaksimalkan pemahaman dari video gratis yang ada.

www.zenius.net

Zenius Blog


Selain memaksimalkan penggunaan video gratis Zenius, saya juga memanfaatkan fitur gratisan lainnya, yaitu Blog Zenius! Dan inilah yang paling sering saya manfaatkan.
Pada dasarnya saya suka membaca. Membaca tulisan sains populer, tulisan tentang pendidikan, idealisme, sejarah, dan apapun itu. Kabar baiknya, di blog Zenius semua tema itu ada, ditambah lagi dengan gaya bahasa yang gaul (walaupun saya nggak gaul), saya semakin suka. Tulisan-tulisan itu semakin mengukuhkan posisi Zenius, bahwa Zenius benar-benar bergerak ke arah pendidikan yang benar, pendidikan yang asik, penuh arti, dan bermanfaat di kehidupan nyata.
Sebelumnya saya sudah membaca beberapa buku tentang analisis ilmiah terhadap kecerdasan, psikologi, dan pendidikan, yang memberi saya sudut pandang baru pada terhadap kecerdasan dan dunia pendidikan. Bahwa seorang genius bukan dilahirkan, tapi dicetak. Dicetak melalui hal yang sangat mendasar, yaitu delliberate practice, organized knowledge, focus, dan spiritual motivation. Buku tersebut telah mengubah cara pandang dan langkah yang saya lakukan dalam belajar dan mencapai keahlian.
Di blog Zenius saya kembali menemukan istilah-istilah yang saya temui di buku itu. Mulai dari delliberate practice, yang mengajarkan tentang bagaimana latihan (belajar) terstruktur, rutin, sistematis menjadi bagian terpenting untuk menjadi seorang ahli. Lalu tentang aturan 10.000 jam, cherry picking, pseudoscience, dan banyak pembahasan lain. Di sini saya benar-benar yakin atas kualitas Zenius, karena memang pembahasan-pembahasan tersebut (dari buku dan blog Zenius) didasarkan pada penelitian ilmiah panjang yang telah lama dipraktekkan di dunia pendidikan barat (dan terlihat bagaimana hasilnya).
Saya sangat senang membaca tulisan di blog Zenius, di satu sisi saya me-review apa yang pernah saya baca dengan lebih efektif (saat ini waktu saya lebih padat), dan di satu sisi semakin menambah pengetahuan dan pemahaman saya terhadap semua hal. Pokoknya asik.
Dari semua tulisan di blog Zenius, tulisan tentang belajar adalah yang paling saya suka, ini salah satunya: Belajar Untuk Nilai Atau ...

Terima Kasih Banyak


Sedikit cerita saja, pas kelas XII MA saya ikut KSM (Kompetisi Sains Madrasah) di bidang Fisika. Hasilnya? Saya mendapatkan medali perak di tingkat nasional. Haha, tidak terlalu buruk, mengingat kondisi saya dan itu adalah lomba fisika pertama yang pernah saya ikuti. Setelah itu saya (dan pemenang yang lain) diundang ke ITB untuk kuliah (menerima kuliah, pelatihan, pengarahan, dll) selama dua minggu.
Saat ini saya sudah kuliah di jurusan yang saya sukai dari dulu, yaitu jurusan fisika. Eits, tapi bukan di ITB, saya nggak daftar ke sana (saya tidak daftar ITB, UI, atau UGM). Di SBMPTN saya memilih Universitas Diponegoro di pilihan pertama dan saya masuk. Kenapa tidak ITB? Ada alasan pribadi saya, dan saya memang lebih memilih jurusannya daripada kuliah di mana. Hmmm… dan kembali lagi ke quote awal, saya akan memaksimalkan kuliah saya di sini.
Fiolla! Di Undip saya bertemu teman baru (satu kos), yang ternyata member aktif Zenius. Di sinilah saya patut bersyukur--dan memang selalu bersyukur, saya diizinkan untuk menggunakan Zenius Xpedia yang dia punya. Saya tidak menggunakan semua, hanya di bagian Learning Guide. Dan itu sudah sangat bermanfaat bagi saya. Di sela-sela waktu kuliah, saya menyimak baik-baik learning guide lengkap yang ada. (Beberapa bagian Learning Guide sudah pernah saya ikuti secara gratis di zenius.net di sini, dan berkat bantuan teman saya ini saya bisa mengikuti Learning Guide secara lengkap)
Hasilnya, learning guide Zenius banyak membantu saya dalam mengambil sikap dengan benar di kegiatan kuliah. Kuliah pun lebih terstruktur, sistematis dan mengasyikkan! Di kuliah, saya pun sering dimintai bantuan teman saya untuk berdiskusi mengenai konsep dari materi yang sedang dipelajari. Asik.

Sebagai bentuk terima kasih saya kepada Zenius, saya selalu berusaha untuk menyebarkan filosofi pendidikan yang benar (sebagaimana Zenius) kepada teman-teman saya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Itulah cerita perjalanan saya…
Padahal saya baru memakai fitur gratisan dari Zenius, tapi saya sudah merasakan bagaimana ia membentuk pola pikir saya, pola pikir ilmiah keren yang membuat saya melihat dunia dengan sudut pandang yang sangat menakjubkan. Nggak kebayang kalau seluruh fasilitas Zenius dimanfaatkan secara maksimal!

***

Hihihi. Sebenarnya saya agak sungkan menulis tulisan cerita seperti ini. Tapi nggak apa-apa deh, kalo dengan cerita perjalanan saya ini saya punya kesempatan dapet buku keren gratis dari Zenius.

Hadiah blog competition www.zenius.net

Selasa, 01 Desember 2015

Blog Ini Tidak Terurus



"Semakin lama blog ini (Undip Strip) semakin terlihat tidak terurus," kata teman saya. 
Hal itu benar, blog ini memang tidak terurus. Tulisan di blog ini sudah usang, tulisan terakhirnya saja saya tulis tanggal 21 November, sedangkan sekarang sudah tanggal 1 Desember. Tidak ada lagi tulisan-tulisan up to date yang rutin saya upload satu kali sehari di blog ini.
Kenapa? Saya sebenarnya juga tidak tahu kenapa
Akhir-akhir ini saya bingung ingin menulis apa. Di kepala saya berkecamuk kecapekan karena aktivitas kuliah: mulai dari tugas, laporan, kehidupan angkatan, dan tentu saja tradisi kampus. Kecamuk itu menghambat tulisan-tulisan saya untuk selesai, sehingga banyak tulisan yang hanya berhenti di draft blog dan tidak pernah muncul di post blog. 
Mungkin itu adalah penjelasan yang pas. Bukannya saya tidak menulis (tidak mengurus) blog, tetapi kebanyakan tulisan saya belum tuntas, dan karenanya tidak ada tulisan yang masuk di post blog.
Tapi tenang saja, saya sudah mulai bisa mengendalikan kecamuk itu. Sebentar lagi blog ini aktif lagi kok :)

Selasa, 17 November 2015

Tulisan Basi

Sudah dua minggu ini saya memiliki banyak kegiatan di kampus. Bukan kegiatan akademik, bukan pula kegiatan organisasi. Ini tentang kegiatan kaderisasi yang (mau tidak mau) harus saya jalani: mengisi buku angkatan, buku perkenalan, tugas, dan masih banyak lagi lainnya.
Akibatnya, selama dua minggu blog ini terbengkalai. Jika biasanya minimal saya menulis satu tulisan tiap hari, kali ini saya bahkan belum menulis satu pun selama dua minggu ini. Hidup terasa hambar.
Sebenarnya kepadatan jadwal memang tidak dapat saya jadikan alasan, dan saya memang tidak ingin menjadikannya sebagai alasan. Ketika kegiatan selesai, ketika saya sudah sampai kos sebenarnya saya masih punya sedikit waktu untuk mengurus blog ini. Tapi apa daya, saya sudah terlanjur kecapekan karena kegiatan dan akhirnya ketiduran. Padahal di kepala ini sudah ada banyak sekali hal yang ingin saya tuliskan. 
Ketika waktu yang agak luang sudah ada dan kondisi saya sedang fit, saya ingin menulis. Namun lagi-lagi ada masalah, ide-ide saya yang dulu ingin saya tulis ternyata sudah basi, tidak cocok dengan kondisi saat ini. Jadinya ya seperti ini.

Jumat, 30 Oktober 2015

Tembalang Hujan (Lagi)


Sore ini saya kembali melihat hujan, setelah lama tidak pernah melihatnya. Berdasarkan catatan saya (di blog ini), hujan pertama yang saya lihat di Tembalang terjadi pada tanggal 11 September 2015, itu 49 hari yang lalu. Hmm.. cukup lama ternyata.
Pola hujan yang terjadi hampir sama, kecuali beberapa hal. Hujan pertama terjadi setelah maghrib, hujan kedua ini terjadi sebelumnya. Hujan kali ini turun relatif lebih lama dibanding yang pertama, walaupun sebenarnya ya sama saja, sama-sama cuma sebentar.
Tapi tak apalah, hujan sebentar ini bisa memeberi nuansa dan ketenangan baru setelah seharian menjalani panasnya Tembalang. 

Sebenarnya bukan hujannya yang memberi saya nuansa baru, tapi aromanya, dan ini yang lebih saya suka. Kalian tahu, kan, bagaimana aroma ketika hujan pertama kali turun? Iya, aroma tanah yang begitu lembut. Aroma yang begitu menenangkan. Ingin rasanya berlama-lama menghirup aromanya.

***





Eh, sebentar. Sebenarnya istilah hujan di sini tidak tepat. Kenapa? Tentu saja karena tetesan-tetesan air yang jatuh dari langit hanya sedikit. Bukannya hujan, tetesan air ini lebih tepat disebut gerimis
Ya sudah, harusnya saya ganti judulnya dengan gerimis Tembalang. Tapi tak usah lah..

Jumat, 16 Oktober 2015

Jumat, 09 Oktober 2015

Rekor Sementara

Ini menjadi rekor sementara jam pulang saya dari kampus, menjadi waktu terlarut saya pulang, yaitu 20.45 WIB. Ini hanya rekor sementara, dan rekor yang biasa-biasa saja (karena banyak yang pulang lebih larut daripada saya).
Tapi tidak apalah, ini rekor pribadi, yang mungkin akan terpecahkan beberapa bulan lagi.

Kamis, 24 September 2015

Kembali Merasakan Kebersamaan Ala Pondok

Alhamdulillah, hari ini saya dapat menjalankan shalat idul Adha di Semarang. Nuansa yang berbeda memang, karena di sini tidak ada gulai hati--yang selalu dimasak Bu'e ketika pagi di hari raya (idul fitri dan adha), dan tidak ada pa'e yang selalu nggegeri saya agar segera pergi ke masjid.
Tapi setidaknya di sini saya menemukan kembali secuil nuansa yang pernah saya rasakan, nuansa yang begitu menyejukkan. Inilah nuansa kebersamaan di pondok. Bukan kebersamaan di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan seperti tahun-tahun lalu, tapi ini di Pondok Kyai Galang Sewu Tembalang.
Walaupun kos saya berada persis di samping pondok ini, walaupun saya memang sering shalat jamaah di masjid pondok ini, namun saya belum pernah merasakan secara utuh nuansa kebersamaan di pondok ini.
Baru kali inilah saya benar-benar merasakannya. Setelah shalat idul adha ini tadi, nampan berisi nasi dan lauk telah disiapkan untuk dimakan bersama-sama. Banyak warga yang memilih langsung pulang atau melihat hewan qurban, jadi mayoritas yang memakan makanan itu adalah santri pondok Kyai Galang Sewu itu sendiri. Nah, berhubung saya sedang dalam keadaan lapar, saya ikut nimbrung makan. Satu nampan untuk 6-10 orang. Hmm.. Nuansa yang sering saya lihat dan saya rasakan pada tahun-tahun lalu di Pesantren Raudlatul Ulum.
Dari kegiatan makan ini tadi saya juga dapat pelajaran. Di awal-awal makan masih ada banyak lauk, sehingga saya menikmati makanannya. Tapi di akhir-akhir, jumlah lauk tinggal sedikit (lauk yang enak nyaris habis), sementara nasi masih sangat banyak. Maksud saya sih saya mau mengakhiri makan, saya berhenti. Tapi, santri di samping saya menyahut, "ayo, ndang dientekke. (Ayo dihabiskan)"
Jadi mau tidak mau saya meneruskan makan. Saya tidak boleh mengambil bagian enaknya saja (yaitu bagian awal-awal) dan kemudian meninggalkan bagian tidak enaknya (bagian akhir). Ini tentang konsekuensi dan komitmen: kalau memang punya niat untuk makan, ya makan, dan habiskan. 
***
Sampai di kos, Mbah Djirah (pemilik kos) mempersilahkan saya untuk makan di warungnya, gratis. Berhubung saya agak sungkan menolak, akhirnya saya makan lagi. Walaupun saya berspekulasi dengan mengambil sedikit nasi, tetap saja pada akhirnya saya kekenyangan. Ya sudahlah, hitung-hitung sebagai ganti, karena sehari-hari di Semarang biasanya saya selalu lapar.

(Tadi saya tidak sempat memfoto, mungkin tadi pas makan di pondok seperti ini--saya dapat gambar dari internet)

Sabtu, 19 September 2015

Bekerja Kelompok Itu Sulit


Saya ini bagaimana ya.. rasanya kok sulit sekali ketika harus bekerja secara kelompok.
Di dalam hati saya ingin agar semua anggota menuruti apa mau saya, atau semuanya saya kerjakan sendiri saja. Kalau tidak seperti itu rasanya kemampuan saya tidak bisa muncul.

***

Di lain sisi saya juga sadar kalau kerjasama/kerja kelompok itu penting sekali, dan saya ingin punya naluri yang baik untuk bekerja secara kelompok. Jadi, apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi hal ini? Mengatasi seluruh kecanggungan dalam bekerja kelompok?

Adakah yang punya saran untuk saya? Saya ingin bisa bekerja secara kelompok.

Jumat, 18 September 2015

Menulis Panjang


Menulis panjang itu sulit. Perlu skill tinggi untuk membuat tulisan panjang tetap menarik dibaca sampai akhir. Penulis tulisan panjang harus pandai merangkai logika pemikirannya secara sistematis dan rapi, sehingga tidak ada kesan membosankan dan tulisan yang terlalu dipanjang-panjangkan.

Saya sendiri masih kesulitan untuk menulis tulisan panjang. Kalaupun menulis panjang, tulisan saya tidak sistematis dan sama sekali tidak rapi. Yang pada akhirnya tulisan itu cukup membosankan untuk dibaca. 


Kamis, 17 September 2015

Sedang Bingung

Saya sedang bingung, sedang malas menulis. Bukan karena tidak ada ide, karena kebetulan saya punya banyak ide. Bukan juga karena sibuk, karena aih, saya ini sibuk apa sih..
Rasanya malas. Sudah duduk di depan laptop, sudah siap dengan ide, tapi tiba-tiba mandek di pertengahan jalan.
***
Semoga saya bisa mengatasi keadaan ini, dan kembali aktif menulis lagi. Ada banyak hal yang ingin saya tulis, dan saya tidak ingin ide-ide itu menguap begitu saja sebelum sempat saya tulis.

Senin, 14 September 2015

Ricky Elson: Berkarya Untuk Bermanfaat

Berikut ini video inspirasi dari Ricky Elson saat mengisi acara Inspirasi Ramadhan di Masjid Salman ITB. Sangat inspiratif dan menggugah semangat.
Saya bertemu video ini dalam waktu yang sangat tepat, saat saya hampir kehilangan seluruh semangat.

Terima kasih Salman TV yang sudah meng-upload video ini ke Youtube.